Bagi Fendy Suhartanto mengajar bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa. Guru sejarah SMAN 1 Puri ini percaya bahwa masa lalu harus dihadirkan secara dekat dan menyenangkan bagi murid. Dia memulai karier sebagai guru pada tahun 2007.
Setahun kemudian, Fendy langsung menorehkan prestasi dengan meraih penghargaan Guru Berprestasi Provinsi Jawa Timur dari Gubernur Imam Utomo. Pada tahun 2011, dia kembali mendapatkan apresiasi dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh, dalam Peringatan Hari Aksara Internasional. ”Belajar sejarah itu seharusnya tidak terasa jauh. Saya ingin murid merasa masa lalu itu hidup dan relevan dengan hari ini,” ujarnya.
Berbagai penghargaan lain pun terus menyusul. Tahun 2019, dia meraih juara II Lomba Penulisan Media Pembelajaran Sejarah di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Kemendikbud. Dua tahun berikutnya, Fendy kembali menorehkan prestasi nasional sebagai juara II Sayembara Menulis Jalur Rempah dan Sejarah Kemaritiman Dunia yang digelar BPCB Jambi, Kemendikbud.
Tahun 2025 dirinya menjadi tahun istimewa baginya. Dia terpilih sebagai salah satu dari 30 penulis artikel terbaik MGMP Sejarah Madrasah Aliyah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, sekaligus meraih juara I Lomba Karya Tulis Sejarah dan Kebudayaan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda, Kalimantan Timur.
Selain aktif mengajar, Fendy juga produktif menulis. Puluhan artikelnya telah terbit di berbagai media, dan hingga kini dia sudah menulis tujuh buku sejarah. Melalui karyanya, dia berupaya menjembatani antara dunia akademik dan pengalaman belajar siswa di kelas.
Menurutnya, pembelajaran sejarah harus relevan dengan kebutuhan generasi masa kini. Karena itu, dia memadukan penguasaan materi sejarah dengan pemanfaatan teknologi informasi agar siswa lebih kritis, literatif, dan kreatif. ”Kalau murid bisa memahami sejarah dengan gembira, dan belajar mengambil hikmah darinya, di situlah guru berhasil,” pungkasnya. (oce/ris)
Editor : Hendra Junaedi