KABUPATEN - Ambruknya pagar pembatas milik Raudhatul Athfal (RA) Brawijaya, Desa Candiwatu, Kecamatan Pacet menjadi pertimbangan Kemenag Kabupaten Mojokerto dalam menginventarisir seluruh bangunan madrasah. Terutama madrasah yang memiliki potensi terhadap risiko bencana, baik banjir, tanah longsor hingga kebakaran.
Inventarisir ini yang nantinya menjadi dasar kemenag dalam mengajukan bantuan rehabilitasi dan pembangunan madrasah yang rusak. Kepala Kemenag Kabupaten Mojokerto Muttakin telah menginstruksikan seksi pendidikan madrasah (pendma) untuk mendata seluruh bangunan madrasah baik negeri maupun swasta yang tersebar di 18 kecamatan.
Mulai dari tingkat RA sebanyak 197 lembaga, madrasah ibtidaiyah (MI) sebanyak 207 lembaga, madrasah tsanawiyah (MTs) sebanyak 97 lembaga, dan madrasah aliyah (MA) sebanyak 57 lembaga. Inventarisir lebih difokuskan pada madrasah yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana, khususnya yang berada di kawasan pegunungan Pacet, Gondang dan Trawas. ’’Setelah peristiwa ambruknya pagar RA di Candiwatu, kami perintahkan pengawas dan pegawai seksi pendidikan madrasah untuk mendata seluruh bangunan madrasah,’’ ujarnya.
Inventarisir ini diakui Muttakin sebagai langkah antisipatif agar pelajar dan dewan guru terhindar dari bencana. utamanya bencana banjir dan tanah longsor di musim hujan saat ini. Tidak sekadar menginventarisir, Muttakin juga memerintahkan pengurus madrasah untuk kerja bakti membersihkan lingkungan madrasahnya. Langkah ini sekaligus sebagai deteksi dini dari potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu. ’’Untuk pengurus madrasah juga kami minta membersihkan gorong-gorong di sekitar sekolah,’’ tambahnya.
Sebelumnya, pagar pembatas milik RA Brawijaya, Desa Candiwatu, Kecamatan Pacet ambruk setelah diterjang luapan air dari sungai yang ada di atas bangunan madrasah. Pagar sepanjang 13 meter itu ambruk usai kawasan Pacet diguyur hujan dengan intensitas tinggi, Rabu (22/10). Tidak sekadar merobohkan pagar, luapan air juga menggenangi dua ruang kelas madrasah.
Beruntung, ambruknya pagar berlangsung saat malam hari, sehingga tidak ada aktivitas yang dapat menimbulkan korban. (far/fen)
Editor : Hendra Junaedi