Jawa Pos Radar Mojokerto - Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi memiliki norma yang harus diperhatikan saat digunakan. Salah satu hal yang krusial adalah perbedaan antara kata-kata baku dan kata-kata tidak baku.
Kata-kata baku dipakai dalam konteks formal, seperti tulisan ilmiah, administrasi, karya akademis, serta komunikasi resmi. Di sisi lain, kata-kata tidak baku umumnya digunakan dalam interaksi sehari-hari yang lebih santai dan tidak terikat pada kaidah tertentu.
Kesalahan dalam menggunakan kata baku dan tidak baku seringkali dilakukan tanpa disadari. Namun, penggunaan kata yang benar dapat meningkatkan efisiensi komunikasi dan mencegah terjadinya kesalahpahaman.
Berikut adalah beberapa contoh kata baku dan tidak baku yang sering ditemukan dalam masyarakat:
- Aktivitas - Aktifitas: Istilah yang benar dan baku adalah aktivitas. Penggunaan aktivitas salah karena mengikuti cara berbicara sehari-hari. Kata ini berasal dari bahasa Inggris aktivitas yang disesuaikan mengikuti ketentuan.
- Apotek– Apotik: Kata apotek merupakan bentuk resmi yang digunakan dalam bahasa yang formal. Penulisan apotik tidak sesuai dengan aturan, meskipun masih sering terlihat di papan nama toko obat.
- Risiko – Resiko: Bentuk yang baku adalah risiko. Istilah risiko lebih sering digunakan dalam percakapan, tetapi dalam tulisan resmi sebaiknya tetap menggunakan bentuk risiko.
- Praktik – Praktek: Praktik adalah kata yang baku, contohnya dalam frasa "praktik kedokteran". Sementara itu, praktik tersebut dianggap tidak baku.
- Subjek – Subyek: Di dalam bahasa Indonesia, bentuk yang baku adalah subjek. Penulisan subyek tidak sesuai dengan kaidah karena mengikuti pengaruh ejaan yang lama.
- Februari – Pebruari: Bulan kedua dalam kalender masehi seharusnya ditulis Februari. Sering kali orang menyebutkan Pebruari, meskipun itu tidak baku.
- Utang – Hutang: Bentuk yang baku adalah utang. Kata hutang masih sering digunakan, tetapi tidak mengikuti pedoman ejaan yang benar.
- Nomor – Nomer: Istilah baku yang tepat adalah nomor, bukan nomer. Penulisan yang keliru ini biasanya dipengaruhi oleh cara pengucapan sehari-hari.
- Zaman – Jaman: Bentuk baku yang benar adalah zaman. Meskipun istilah jaman sering muncul dalam percakapan, namun tidak sesuai dengan aturan bahasa Indonesia.
- Analisis – Analisa: Istilah analisis adalah bentuk baku yang benar. Kata analisa sering digunakan, namun tidak tepat menurut kaidah.
Baca Juga: Pentingnya Digital Detox dan Mindfulness dalam Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital
Pentingnya Membiasakan Kata Baku
Penguasaan dan kebiasaan dalam memakai kata baku tidak hanya dibutuhkan oleh pelajar, siswa, atau pekerja, tetapi juga oleh masyarakat luas. Dengan menjadikan kata baku sebagai suatu kebiasaan, proses komunikasi akan menjadi lebih terarah, sistematis, dan memiliki nilai profesionalitas.
Selain itu, memakai kata baku dapat mencerminkan rasa hormat terhadap bahasa Indonesia sebagai cerminan identitas bangsa. Ketika masyarakat terbiasa menggunakan kata baku, kualitas bahasa akan terjaga dan tidak tergantikan oleh kebiasaan ucapan yang tidak tepat.
Kesalahan dalam penggunaan kata tidak baku masih banyak ditemukan, baik dalam percakapan sehari-hari, tulisan di media sosial, maupun tanda nama usaha.
Namun, dengan pengetahuan yang benar, kita dapat mulai melakukan perbaikan. Mengadopsi kata baku adalah langkah yang mudah untuk melestarikan kualitas bahasa Indonesia.
Mari kita mulai dari hal-hal kecil, gunakan kata aktivitas daripada aktifitas, tulis praktek daripada praktik, dan biasakan kata zaman bukan jaman. Dengan cara ini, bahasa Indonesia akan tetap indah, teratur, dan penuh wibawa. Leny Ramandhan Oktaviany/Linda
Editor : Imron Arlado