Dispendik Kabupaten Optimalkan Peran SKB dan PKBM
KABUPATEN - Jumlah anak tidak sekolah (ATS) di Kabupaten Mojokerto tahun ini diklaim sedikit mengalami penurunan. Hingga awal Agustus, jumlah ATS turun menjadi 4.508 anak, dari sebelumnya mencapai 4.936 anak.
Kabid PAUD dan Pendidikan Nonformal (PNF) Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Mojokerto Nur Wahyu Liswati mengungkapkan, data tersebut dirilis dalam verifikasi faktual (verfal) jumlah ATS di 18 kecamatan berdasarkan data pokok pendidikan (dapodik). ’’Ada sedikit penurunan dibandingkan tahun lalu,’’ katanya, kemarin (4/8).
Liswati menyebutkan, banyak faktor yang turut memengaruhi terjadinya ATS. Seperti pernikahan dini, faktor sosial, dan lingkungan sekitar. ’’Ada juga penyebab yang spesifik kasus ATS di Kabupaten Mojokerto, secara umum karena faktor budaya dan ekonomi juga,’’ terangnya.
Pihaknya bersama sekolah selama ini aktif memberikan motivasi kepada siswa dan orang tua untuk mencegah putus sekolah. Di sisi lain, untuk menekan jumlah ATS tersebut, dispendik juga mengoptimalkan keberadaan pendidikan nonformal. Seperti sanggar kegiatan belajar (SKB) dan pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). ’’Untuk PKBM ada di beberapa kecamatan, dan bisa menjangkau anak putus sekolah,’’ imbuhnya.
Keberadaan lembaga nonformal tersebut, lanjut dia, tak hanya mendata namun juga mengajak anak-anak agar mau bersekolah kembali, seperti di PKBM. Dengan demikian, anak-anak dapat leluasa memilih waktu untuk belajar di PKBM. ’’Kalau di SKB atau PKBM, meski penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2025/2026 telah usai, namun sekolah masih diperbolehkan menerima calon siswa baru, termasuk ATS ini tadi,’’ pungkasnya. (oce/ris)
Editor : Hendra Junaedi