Meski belum mendapatkan kepastian sebagai sasaran program makan bergizi gratis (MBG), SDN Jasem, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, rupanya sudah mampu menerapkan program tersebut secara mandiri. Sekolah yang berada di kawasan timur kabupaten ini berhasil menerapkan program setara MBG secara mandiri berkat hasil penjualan sampah nonorganik.
Setidaknya itu terlihat pada Sabtu (10/5) lalu. Semua siswa dari kelas I hingga VI menggelar sarapan pagi bersama. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program gerakan sekolah sehat (GSS). ’’Makan pagi bersamanya dari hasil penjualan sampah nonorganik. Seperti plastik, kertas, dan barang bekas. Itu salah satu program adiwiyata sekolah kami,’’ kata Kepala SDN Jasem Masruchi Adyningsih.
Dia menuturkan, program tersebut sekaligus menjadi bukti nyata bahwa sekolah bisa menggelar makan gratis bergizi mandiri tanpa bantuan pemerintah, asalkan dengan menggulirkan program inovatif dan mandiri. Tepatnya, menyulap sampah menjadi barang berharga dan bernilai rupiah.
’’Sebagai sekolah adiwiyata nasional, selain bersih lingkungan, kami juga menjual sampah. Ini merupakan inovasi dari program adiwiyata. Dan untuk makan gratis bagian dari program GSS. Jadi kami menyatukan dua program sekaligus,’’ terangnya.
Sekolah yang kini tengah menuju adiwiyata mandiri itu telah menerapkan jual sampah bekas sejak beberapa tahun lalu. Masruchi menegaskan, sekolah dan pengepul limbah barang bekas sekitar sekolah sudah menjalin MoU (memorandum of understanding) untuk penjualan sampah nonorganik. Seperti botol, kertas, dan barang bekas lainnya.
’’Nah, dari hasil penjualan tersebut, uangnya kita gunakan untuk makan pagi bergizi bersama siswa. Selain sehat dan hemat, cara ini juga membuat lingkungan sekolah tetap asri dan bersih,’’ tandasnya. (oce/ris)
Editor : Hendra Junaedi