KABUPATEN - Tingginya angka putus sekolah di Kabupaten Mojokerto membuat lembaga pendidikan nonformal harus bekerja ekstra. Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Mojokerto akan jemput bola mendatangi anak tidak sekolah (ATS) lewat desa maupun lingkungan sekitar.
Kepala SKB Mojokerto Hatta Mustofa mengatakan, tak seperti lembaga pendidikan formal, jelang tahun ajaran baru, justru pihak sekolah yang mendatangi calon siswa. Biasanya, tim SKB Mojokerto turun langsung ke desa untuk menjaring anak-anak yang putus sekolah. ’’Mulai bulan-bulan seperti ini kita sudah penyisiran ke desa-desa. Karena kalau nggak jemput bola, ya anak-anak nggak mau sekolah,’’ katanya.
Menurutnya, SPNF/SKB siap melayani anak putus sekolah yang ingin melanjutkan pendidikan melalui program kesetaraan. Pihaknya terus memantau dan mengevaluasi data anak putus sekolah dari Dispendik Kabupaten Mojokerto untuk mencegah adanya penambahan ATS. ’’Fokus utama kita adalah anak-anak yang drop out. Namun, lulusan formal yang ingin belajar di sini tetap bisa bergabung, meski prioritas tetap anak putus sekolah,’’ paparnya.
Kendati sudah mendekatkan layanan pendidikan, Hatta tak memungkiri tetap mengalami kendala dalam memberikan pemahaman tentang pentingnya pendidikan. Pihaknya juga harus rutin mengingatkan setiap ada jadwal pembelajaran pada siswa. ’’Setiap hari harus tetap dihubungi, kalau ada jadwal belajar dengan mata pelajaran ini, padahal mereka sudah dikasih jadwal,’’ tuturnya.
Menurutnya, program seperti kelompok belajar bersama hingga dukungan dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) menjadi upaya nyata untuk menjangkau lebih banyak anak. SKB menjadi salah satu solusi bagi mereka yang tidak minat melanjutkan jenjang pendidikan. ’’Kami buka rombongan kelompok belajar untuk menjangkau seluruh masyarakat, supaya tidak ada lagi yang terlewat dari pendidikan,’’ jelasnya.
Akses pendidikan bagi siswa, termasuk anak putus sekolah pun dipermudah. Di SKB, tersedia fasilitas belajar online dan modul pembelajaran khusus bagi siswa yang bekerja. ’’Kami juga memberikan pelatihan keterampilan di SKB, agar mereka bisa berwirausaha atau mendapatkan pekerjaan pada masa depan,’’ paparnya.
Sekadar diketahui, sebanyak 4 ribu lebih anak di Kabupaten Mojokerto mengalami putus sekolah. Mereka memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan dikarenakan beberapa alasan. Kabid PAUD dan Pendidikan Nonformal (PNF) Dispendik Kabupaten Mojokerto Nur Wahyu Liswati menyebutkan, hingga pertengahan Januari 2025 ini, sebanyak 4.626 anak memilih untuk tidak melanjutkan sekolah. Meliputi, siswa tingkat sekolah dasar (SD) yang sedianya melanjutkan ke tingkat sekolah menengah pertama (SMP), siswa SMP yang semestinya melanjutkan ke tingkat sekolah menengah atas (SMA), dan sekolah menengah kejuruan (SMK). (oce/fen)
Editor : Hendra Junaedi