KEMENTERIAN Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengukuhkan SMAN 1 Sooko sebagai sekolah presisi.
Pengukuhan ini sekaligus sebagai penguatan karakter siswa mandiri melalui kreasi seni.
Kepala SMAN 1 Sooko Sutoyo mengatakan, presisi adalah model pembelajaran kontekstual berbasis proyek.
Dengan harapan peserta didik dapat menghasilkan karya seni sebagai penguatan karakter. ”Sebagai sekolah presisi, ke depan agar berimbas ke sekolah lain di sekitarnya,” ujarnya, kemarin (29/5).
Sebelum penetapan sebagai sekolah presisi, terlebih dahulu tim Kemendikbudristek melakukan pemantauan, kajian, dan penelitian, hingga beberapa kali ke SMAN 1 Sooko.
Sutoyo menambahkan, sebagai penanggung jawab program presisi pihaknya memberdayakan guru mendamping para siswa di bidang seni dan budaya.
Antara lain, seni batik, teater, paduan suara, karawitan, dan tari.
Sutoyo turut mengapresiasi atas kepercayaan yang diberikan Kemendikbudristek untuk menetapkan SMAN 1 Sooko sebagai sekolah presisi.
”Secara teknis kami siap menjalankan program sekolah presisi, karena modal berbagai pelajaran seni yang ada sangat mendukung,” tambah juara 2 kepala sekolah berprestasi Jawa Timur tahun 2017 ini.
Sebelumnya SMAN 1 Sooko dinyatakan lolos sebagai sekolah penggerak angkatan 3.
Menurutnya, program tersebut selaras dengan sekolah penggerak yang memiliki visi wawasan budaya. Hal itu, dinilai sebagai cara terbaik dalam mengembangkan literasi peserta didik melalui program inovasi budaya.
”Terlebih, penguatan karakter bersumber dari kearifan lokal sebagai pembelajaran. Kendati perkembangan teknologi saat ini begitu pesat,” tambah peraih hak cipta KTI Kemenkum HAM tahun 2023 ini.
Dia menegaskan, para pelajar diharapkan tetap memiliki karakter profil pelajar Pancasila dengan enam karakter utama.
Meliputi, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME), berakhlak mulia, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif.
Raihan program sekolah penggerak dan sekolah program presisi dari Kemendikbudristek berkat kerja sama yang solid semua guru, pegawai, komite sekolah dan orang tua siswa.
”Tujuan presisi pembelajaran kontekstual berbasis budaya, agar menghasilkan modul pembelajaran sebagai penguatan karakter siswa mandiri melalui kreasi seni,” pungkasnya. (bas/ris)