JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) membuka ruang belajar sekaligus bekerja ke Jepang bagi 45 ribu pemuda di Indonesia. Kesempatan tersebut diberikan sebagai upaya menjalankan program 12 Aksi Desa dan Asta Cita Presiden Prabowo yang keenam, yaitu membangun desa dari bawah untuk pertumbuhan dan pemerataan ekonomi sekaligus pemberantasan kemiskinan.
Demikian itu diungkapkan Mendes dan PDT Yandri Susanto kepada Jawa Pos Radar Mojokerto di sela mengunjungi Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Minggu (14/6). ’’Pekan lalu (Kamis, Red) Kemendes melepas 200 pemuda Program Bangun Desa Bangun Indonesia ke Jepang (tahap pertama). Nah, (sekarang) ini kita punya kuota 45 ribu,’’ ujarnya. Ratusan pemuda dari 15 provinsi tersebut dikirim untuk memperluas wawasan dan nantinya akan kembali untuk membangun daerah. Salah satu di antaranya mendukung program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Yandri menuturkan, untuk memenuhi kuota tersebut, saat ini Kemendes PDT meminta desa untuk membantu melakukan inventarisasi pemuda berpotensi, namun di sisi lain tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau belum memiliki pekerjaan. ’’Dan sekarang kita meminta, menginventarisir pemuda-pemuda di desa yang mungkin susah kuliah, atau susah mencari pekerjaan, agar bisa berangkat ke Jepang dengan beasiswa sekaligus magang,’’ imbuh mantan Ketua Komisi VIII DPR, ini.
Dia menegaskan, selama berada di Negeri Sakura, melalui program tersebut, mereka yang mendapat kesempatan akan menempuh pendidikan sekaligus magang kerja. ’’Mereka mendapat pendidikan sekaligus dapat uang. Dan begitu selesai kembali lagi bisa membangun desa,’’ tambah Wakil Ketua Umum Partai Amanah Nasional (PAN), ini.
Dengan demikian, mereka tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja ketika kembali ke Indonesia. Sehingga pengalaman dan ilmu yang diperoleh di Jepang diharapkan dapat diterapkan untuk membangun desa. Yandri menjelaskan, program tersebut menjadi langkah nyata pemerintah dalam menyiapkan generasi muda desa yang berdaya saing global dan menjadi motor penggerak pembangunan di daerah asalnya. Utamanya dalam mendukung 12 Aksi Desa.
Baca Juga: Sepekan ke Depan, Toko Minol di Zona Terlarang Wajib Tutup! Pemkab dan MUI Ultimatum Pelaku Usaha
Di antaranya, BUMDes pendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), desa swasembada pangan, desa swasembada energi, desa swasembada air, mendorong desa ekspor, pemuda pelopor desa, konsolodisi program kementerian/lembaga masuk desa, digitalisasi desa dan wisata, investasi serta kerja sama dengan korporasi nasional dan investor luar negeri, penguatan pengawasan penggunaan dana desa, desa berketahanan iklim dan pengembangan desa tangguh bencana (destana), serta percepatan pembangunan daerah tertinggal.
Menyusul, lanjut Yandri, keberhasilan pembangunan desa membutuhkan kolaborasi berbagai pihak melalui pendekatan Octahelix, yaitu sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, media massa, lembaga keuangan, dunia pesantren, dan sebagainya. Di samping itu, dia menilai program tersebut juga sejalan dengan Asta Cita keenam Presiden Prabowo Subianto, yaitu membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan. ’’Intinya dari 12 aksi ini, kita semua berkolaborasi,’’ tandas Yandri. (ris/fen)
Editor : Imron Arlado