Ketua Tim Ekskavasi Situs Bhre Kahuripan-Klinterejo sekaligus Arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim M Ichwan menerangkan, ekskavasi lanjutan ini berlangsung sejak 17 Juli hingga 16 Agustus mendatang.
Dengan sasaran 217,5 kotak gali atau 870 meter persegi. Sasaran gali tersebut terfokus pada bagian tengah situs dengan luas sekitar 6 hektare tersebut.
Pertama, sisi barat lapangan Klinterejo ke selatan hingga kebun tebu. Titik kedua yakni kebun tebu di belakang pendopo tani untuk mencari sambungan pagar pertama. Sasaran ketiga, merampungkan struktur unik berukuran 17x17 meter yang sejauh ini disinyalir sebagai mandala.
’’Ekskavasi ini melanjutkan tahun-tahun sebelumnya untuk mengetahui pola ruang situs secara utuh. Dan juga untuk mengetahui apakah hipotesa yang ada sejauh ini sudah sesuai atau tidak,’’ ungkapnya.
Di hari keenam penggalian, lanjut Ichwan, tim ekskavasi telah menampakkan sebagian struktur pagar yang membentang ke utara dan selatan di sisi barat lapangan Klinterejo.
Memiliki lebar sekitar 130 cm dan tinggi 16 lapis bata, ukuran dinding pagar tersebut relatih lebih besar ketimbang struktur pagar di sisi timur lapangan. Yang selebar 90 cm dengan tebal kurang dari 16 lapis bata.
Ada temuan unik pada struktur pagar kedua itu. Yakni adanya campuran bata putih pada di salah satu sudut bangunan bermaterial bata merah tersebut. Ditemukan sejumlah bongkahan bata putih yang telah rusak dan sebagain masih utuh menjadi bagian struktur pagar kedua situs.
’’Untuk di sektor ini, memang baru pertama kali ada seperti ini. Kita lihat konteksnya dulu, masih belum bisa menginterpretasi. Apakah itu memang bagian dari konstruksi atau ornamennya,’’ beber Ichwan.
Namun menurutnya, situs peninggalan Majapahit yang dibangun dengan lebih dari satu bahan dasar tersebut banyak ditemukan wilayah Jawa Timur. Seperti Candi Rimbi di Jombang dan Situs Candi Pataan di Lamongan yang didirikan dengan material utama bata putih.
’’Pada dasarnya pembangunan waktu itu memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya. Tapi, untuk ini, masih perlu kita lihat konteksnya dulu,’’ tandas arkeolog asal Klaten ini.
Untuk diketahui, situs peninggalan era Raja Hayam Wuruk ini kali pertama di ekskavasi pada 2018 silam. Ekskavasi lalu digelar setiap tahun sekali hingga tahap VI pada tahun ini.
Temuan spektakuler didapati pada tahap V yakni struktur persegi delapan berukuran 17x17 meter menyerupai Surya Majapahit yang disinyalir merupakan mandala. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah