BATIK sebagai kerajinan tradisional tak sekedar menggambarkan nuansa keindahan yang tercurah dalam guratan motifnya. Lebih dari itu, batik menyimpan segudang filosofi tentang arti kehidupan bagi pemakainya.
Dan, filosofi tersebut kini dituangkan oleh kelompok pembatik Satu Pesanggrahan, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Lewat batik motif bunga Wijaya Kusuma, 15 ibu rumah tangga ini ingin mewujudkan bagaimana mereka bekerja tanpa pamrih meski keindahan karya yang mereka produksi bisa dinikmati seluruh masyarakat, khususnya di Mojokerto.
Atau, dalam istilah Jawa, Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe. Filosofi ini terinspirasi dari bunga Wijaya Kusuma yang lekat dengan sejarah Majapahit. Di mana, dalam beberapa literasi, bunga ini dibudidayakan secara masif di lingkup istana. Bahkan raja-raja Majapahit wajib memiliki hasil tanamnya sendiri karena dianggap kekuatan magis yang besar.
’’Secara harfiah Wijaya Kusuma bermakna bunga kejayaan karena langka dan unik, indah dan aromanya semerbak. Mekarnya waktu tengah malam dam memancarkan keindahan dengan sempurna saat pagi. Harapannya, orang tak harus tahu betapa sakitnya saat berproses. Tapi untuk membangun sebuah kejayaan, diperlukan keikhlasan dan ketulusan bersama dari semua elemen mulai birokrat sampai masyarakat dengan mengedepankan falsafah sepi ing pamrih, rame ing gawe,’’ ujar Kepala Desa Pesanggarahan, Moh. Afif.
Pola batik Wijaya Kusuma sendiri dominan berwarna hitam dan beberapa aksen titik putih yang tervisualisasi dari gambaran malam beserta bintang-bintangnya atau saat bunga Wijaya Kusuma berproses mekar. Bintang-bintang bertaburan mengiaskan tingginya cita-cita. ’’Mengutip quotes dari Bung Karno, Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit, Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang,’’ tandasnya.
Tak hanya itu, di bagian bawah juga dihiasi motif ragam bernuansa tribal berwarna coklat. Motif ini penggambaran dari akar bunga Wijaya Kusuma yang bermakna sebagai pengingat bahwa setinggi apapun cita-cita dan kejayaan yang dicapai, tetap harus mengakar atau down to earth. Sehingga melahirkan sikap yang humble dan low profile.
Warna merah juga sebagai simbol semangat yang sengaja diletakkan paling dasar. Tujuannya, untuk melandasi dari semua harapan, cita-cita yang semuanya adalah semangat kebersamaan. Saat ini, Batik Wijaya Kusuma sedang diproduksi dalam jumlah massal. Prosesnya pun manual atau asli dari tangan para perajin sendiri, mulai dari pembuatan motif, pewarnaan, hingga pengeringan. Untuk satu lembar kain batik tulis Wijaya Kusuma, bisa dibanderol Rp 200 ribu sampai Rp 200 ribu.
Ke depan, Batik Tulis Wijaya Kusuma akan dijadikan ’’ageman’’ resmi dengan brand market Satu Pesanggrahan yang diproduksi oleh masyarakat desa sekitar. ’’Rencananya akan di-launching dengan nama Ageman Batik Pesanggrahan,’’ pungkas Afif. (far/fen)
Editor : Fendy Hermansyah