Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Klub Bermarkas di Stadion Mangoensari

Fendy Hermansyah • Kamis, 4 November 2021 | 14:10 WIB
klub-bermarkas-di-stadion-mangoensari
klub-bermarkas-di-stadion-mangoensari

Musim 2021/2022 ini bakal menjadi ajang pembuktian bangkitnya persepakbolaan di Mojokerto. Lima klub dipastikan mengarungi kompetisi Liga 3. Keikutsertaan tersebut tercatat menjadi yang terbanyak sepanjang bergulirnya liga resmi di Tanah Air. Di sisi lain, hal itu juga menjadi refleksi kejayaan olahraga si kulit bundar. Karena, Mojokerto sudah melahirkan sejumlah klub profesional sejak era pra kemerdekaan.


Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, keberadaan sepak bola di  Mojokerto diperkirakan muncul pada 1920. Kala itu, terdapat sebuah klub yang bernama Modjokerto Voetbal Club (MVC). ”MVC merupakan klub sepak bola pertama di Mojokerto,” ulasnya.


Dijelaskannya, klub sepak tersebut terdiri dari pemain berdarah Eropa yang tinggal di Mojokerto pada masa pemerintahan kolonial. Selain itu, juga CHTNH dengan atletnya dari kalangan etnis Tionghoa. ”CHTNH merupakan klub bola cukup tenar pada masa itu,” tandasnya.


Keberadaan kesebelasan tersebut mendorong pemerintah mendirikan fasilitas olahraga. Di tahun 1926, dibangun sebuah lapangan sepak bola di Kota Mojokerto. Lapangan itu didirikan di lahan luas di Jalan Timur atau kini Jalan Gajah Mada. Tepatnya berbatasan langsung dengan sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Mojokerto atau sekarang menjadi SMPN 1 Kota Mojokerto.


Fasilitas olahraga tersebut dibangun cukup megah dengan dua lapangan sekaligus yang membentang hingga perbatasan jalur rel kereta api. ”Masing-masing dimanfaatkan untuk lapangan utama dan lapangan khusus untuk latihan,” ulasnya.


Ketua Bidang Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini menyebutkan, berdirinya sarana olah raga ini kemudian membawa pengaruh akan lahirnya sejumlah klub lokal Mojokerto lainnya. Di antaranya, Madjapait Voetbalclub yang para pemainnya sepenuhnya dari atlet lokal. Selain itu, Veldpolitie Voetbal Club (VVC) juga turut meramaikan keberadaan klub sepak bola Mojokerto yang mayoritas pemainnya merupakan pegawai kereta api. ”Lahirnya klub sepak bola ini merupakan dampak adanya sarana olah raga berupa lapangan,” tandas Yuhan.


Lapangan sepak bola yang dilengkapi pagar keliling itu pun menjelma menjadi stadion pertama di Kota Mojokerto dan menghelat pertandingan resmi. Untuk bisa menonton dua tim kesebelasan bertanding di Stadion Mangoensari, penonton harus membeli tiket. ”Setiap pertandingan sepak bola waktu itu sudah dikarciskan,” imbuhnya.


Namun, banyaknya klub sepakbola di Mojokerto membuat pemanfaatan lapangan yang dikelola pemerintah kolonial itu menjadi cukup padat. Hingga akhirnya, klub-klub sepakbola menjalin kesepakatan untuk membentuk asosiasi sepak bola Mojokerto.


MVC dan CHTNH kemudian melebur menjadi Modjokerto Voetbal Bond (MVB). Selang beberapa waktu kemudian, Madjapait Voetbalclub turut bergabung dengan asosiasi dan berubah nama menjadi Modjokertosche Voetbal Unie (MOVU). ”Stadion Mangoensari kemudian menjadi markas utama dari klub sepak bola Mojokerto karena disewa dengan jangka panjang,” bebernya. (ram/ron)


 


 

Editor : Fendy Hermansyah
#mojopedia