PIJAT bukan hanya untuk orang dewasa. Bayi pun bisa menikmati terapi kesehatan tradisional itu. Akhir-akhir ini pun tren pijat bayi (baby massage). Terapi ini dinilai memiliki manfaat bagi bayi. Di antaranya untuk relaksasi sang buah hati.
Wilis Wigati, terapis yang membuka praktik pribadi di Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto itu mengatakan, tren pijat bayi kian digemari orang tua. Terlebih saat pandemi. Ia mengaku, tetap mengutamakan protokol kesehatan selama praktik berlangsung. ”Rata-rata setiap bayi rutin terapi sebulan sekali,” ujarnya.
Dia menerangkan, banyak dampak positif dari sisi medis yang didapat bayi seusai terapi. Mulai mencegah tantrum (ledakan emosi pada bayi), membantu perkembangan otak, meningkatkan daya tahan tubuh, hingga menjaga sistem pencernaan.
Sejumlah manfaat tersebut didorong dengan lancarnya peredaran darah pada bayi usai pijat. ”Setelah pijat itu kan peredaran darahnya lancar, jadi si bayi juga bisa tidur lelap,” terangnya.
Ibu satu anak ini menambahkan, tak ada batas usia minimum untuk pijat bayi. Bahkan, bayi yang baru lahir sudah bisa menjalani terapi ini. Ia beralasan, pijatan bagi bayi usia dini itu masih menggunakan sentuhan. ”Kalau usianya sudah dua tahun atau lebih, ada sedikit tekanan,” bebernya.
Wilis berbagi tips bagi para orang tua yang ingin mempraktikkan baby massage di rumah. Dia tak menganjurkan melakukan pemijatan di bagian tulang belakang bayi. Karena, di titik itu, terdapat banyak saraf yang masih sensitif.
Begitu pula dengan bagian kepala. Pijatan hanya boleh dilakukan di bagian muka bayi saja. Seperti bagian dahi dan hidung. ”Pijatan di titik antara mulut dan hidung bisa merangsang pertumbuhan gigi bagi bayi,” tuturnya.
Disinggung terkait rasa pegal pada bayi, Wilis menilai, bayi juga memiliki rasa yang sama dengan orang dewasa. Mereka pun bisa lelah. Lelah tersebut bisa disebabkan oleh berbagai hal. Di antaranya, salah posisi tidur, gendongan yang kurang pas, hingga lelah karena perjalanan jauh. ”Bayi juga butuh relaksasi. Jadi dengan dipijat itu bayi bisa lebih relaks,” tandasnya.
Terapi fisiologi itu terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan peruntukannya. Untuk bayi yang sehat atau yang tengah mengalami sakit. Mereka bisa menjalani lulur bayi, dan baby spa. Tentunya dengantreatment berbeda. ”Untuk baby spa minimal bayi berusia tiga bulan. Karena lehernya sudah kuat untuk pakai neck ring (pelampung leher). Kalau untuk lulur bayi, gak bisa buat bayi usianya masih dini karena kulitnya masih sensitif,” ungkapnya. (vad/ron)
Tidur Lebih Lelap
BAYI juga butuh dipijat. Tak heran jika banyak panti pijat bayi bertebaran. Tak sedikit, orangtua yang rutin memijatkan bayinya. Tujuannya, untuk menstimulasi bayi hingga membuat tidur si buah hati lebih nyenyak.
Salah satu orangtua yang rutin memijatkan buah hatinya adalah Lilis Suryaningsir. Menurutnya, bayi juga bisa merasa capek. Hanya saja mereka belum bisa menceritakannya. Oleh karena itu, dibutuhkan kepekaan orangtua untuk mengenali tanda-tanda bayi yang mulai tidak fit dan butuh stimulasi.
Untuk mengantisipasi ini, perempuan 27 tahun ini rutin memijatkan bayinya, M. Nizam Raffaeyza minimal sebulan sekali. Bahkan, dia mengaku, sudah rutin memijitkan putra bungsunya itu sejak berusia 35 hari. ”Sampai sekarang usia 13 bulan masih rutin pijat,” ungkapnya.
Lilis mengaku ingin memberi yang terbaik bagi bayinya. Salah satunya dengan pijat. Sebab, tidak ada yang tahu kapan bayi merasa capek dan kapan merasa segar. Sehingga, pilihan rutin memijatkan bayi ini sebagai inisiatif dan antisipasi agar bayi tetap segar. ”Untuk mensiasati agar dia tidak capek banget. Karena kita tidak tahu apa yang dirasakan. Dari pada nanti nunggu sakit, minimal untuk mengantisipasi,” tambahnya.
Selain itu, pijat rutin juga bisa membuat tidur bayi lebih berkualitas. Bayi bisa lebih pulas tidur dan tidak sering rewel. Selain itu, bayinya juga tidak mudah terserang penyakit. ”Kalau sakit itu kan bergantung daya tahan tubuh. Tapi, kalau anak saya sendiri, alhamdulillah sehat. Cuma pas mau tumbuh gigi sempat panas,” terang perempuan yang tinggal di Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto itu.
Hal yang paling disadarinya adalah setiap habis pijit anaknya tidak mudah rewel dan tidur lebih pulas. Dia menceritakan, bayi capek tidak selalu disebabkan perjalanan jauh. Meskipun, hanya digendong dan ditimang-timang, bayi akan merasakan pegal.
Tanda-tanda itu dapat dilihat ketika tidur bayi mulai kurang lelap. ”Kalau tidurnya sudah gelimpang ke kanan ke kiri. Gelimbang-gelimbung gitu, berarti sudah capek dan sebentar lagi pijat,” pungkasnya. (adi/ron)
Editor : Imron Arlado