SATU LAGI objek wisata bakal meramaikan kawasan wisata Pacet. Namanya Bernah de Vallei. Terletak di Desa Kembangbelor, Pacet, obyek wisata ini mulai dibuka untuk umum sejak akhir tahun lalu.
Berada di ketinggian sekitar 500 mdpl, wisata di depan MBI Amanatul Ummah, Pacet ini menyuguhkan pemandangan indah serta cuaca segar khas pegunungan. Apalagi lokasinya berada di antara rindangnya hutan pinus serta aliran sungai yang jernih dan menyegarkan.
Beragam wahana disiapkan pengelola Bernah de Vallei untuk memanjakan pengunjung. Mulai kolam renang anak dan dewasa, sarana wisata edukasi serta fasilitas outbond. Termasuk lokasi untuk camping ground.
Untuk menikmati keindahan serta sejuknya alam di Bernah de Vallei, selama masa promosi pasca pembukaan, pengelola menetapkan tarif yang sangat bersahabat. Tiket masuk hanya dibanderol Rp 5 ribu per orang.
Harga yang sama juga diterapkan untuk tiket menikmati segarnya air di wahana kolam renang. Sementara, untuk parkir, pengunjung hanya perlu merogoh kocek Rp 2 ribu untuk motor dan Rp 5 ribu untuk kendaraan roda empat.
Kepala Desa Kembangbelor Muhktar Effendi menjelaskan, Bernah de Vallei merupakan wisata yang digarap dengan konsep ekowisata. Konsep wisata ini paling ideal dengan kondisi geografis Desa Kembangbelor. ’’Pemandangan indah serta rindangnya pepohonan pinus, pasti menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Terutama dari luar kota,” terang Mukhtar.
Gagasan pembangunan obyek wisata ini, menurut dia, juga sudah cukup lama. Sekitar tahun 2014 silam. Namun karena berberapa hal, keinginan tersebut baru terwujud setahun terakhir. Untuk pembangunan dan pengelolaannya sendiri dilakukan oleh Pokdarwis Kembangbelor.
Nama Bernah de Vallei tak lepas dari kondisi geografis lokasinya. Berdasarkan istilah warga desa setempat, Bernah merupakan lahan yang bagus serta ideal. Sementara de Vallei merupakan istilah dalam bahasa Belanda yang berarti lembah.
Rangkul Warga, Garap Lahan Tidur
Bernah de Vallei dibangun dengan dana swadaya masyarakat desa setempat. Objek wisata ini dibangun dan dikelola kelompok masyarakat desa dalam wadah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat.
Manajemen Bernah de Vallei Munif Arifin, mengatakan, untuk pembangunan, pengelola mengandalkan dana swadaya masyarakat Desa Kembangbelor dalam bentuk kepemilikan saham.
Menurut dia, hingga saat ini setidaknya sudah terkumpul sekitar 800 pemegang saham dengan jumlah dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp 800 juta. Dana yang lumayan fantastis, meski sebenarnya manajemen sudah melakukan pembatasan kepemilikan saham. ’’Kita sengaja batasi kepemilikan saham untuk Bernah de Vallei, yaitu maksimal 15 lembar saham per warga. Dengan nilai satu juta rupiah per sahamnya,” terang Munif.
Sementara, lahan yang dipakai obyek ini merupakan lahan milik Perhutani yang dikelola berdasarkan perjanjian kerja sama (PKS) antara 3 pihak. Yakni Perhutani, LMDH serta manajemen Bernah de Vallei.
Berdasarkan PKS ini, cakupan lahan yang bisa dikelola manajemen Bernah de Vallei tampak sangat luas mencapai sekitar 19 hektar. ’’Ke depan kita akan manfaatkan lahan yang belum terpakai sebagai wahana menarik lainnya,” imbuh Munif.
Sementara itu, Margono dari Perhutani KPH Pasuruan menerangkan, dibukanya Bernah de Vallei diharapkan menjadi salah satu percontohan pemanfaatan lahan tidur milik perhutani. Menurut Asper BKPH Pacet tersebut, pengembangan Bernah de Vallei layak untuk ditiru desa lain.
Dari sekian banyak lahan hutan yang masuk dalam KPH Pasuruan, tercatat cukup banyak lahan yang masih belum dikelola desa setempat. ’’Kita berharap desa yang berada di wilayah KPH Pasuruan bisa mencontoh Bernah de Vallei dalam pemanfaatan lahan tidur milik Perhutani,” tandasnya.(nto)
Editor : Imron Arlado