Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Penyebab Jatuhnya Mojokerto di Tangan Belanda

Imron Arlado • Kamis, 14 Januari 2021 | 20:10 WIB
penyebab-jatuhnya-mojokerto-di-tangan-belanda
penyebab-jatuhnya-mojokerto-di-tangan-belanda

Belum gendap dua tahun pasca proklamasi kemerdakaan, Belanda kembali menduduki wilayah Mojokerto. Di balik keberhasilan kolonial menembus benteng pertahanan para pejuang itu rupanya dibantu oleh mata-mata. Akibatnya, Mojokerto jatuh ke tangan musuh dengan tanpa perlawanan berarti dari terntara republik.


 


Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, selama masa revolusi, pertahanan Mojokerto dikenal memiliki garis pertahanan yang kuat. Akan tetapi, benteng tersebut seolah runtuh akibat ulah spionase. ”Untuk memuluskan rencana menduduki Mojokerto, Belanda memilih cara dengan menyebar mata-mata,” terangnya.


Penerapan strategi tersebut dilatar belakangi adanya gencatan senjata jelang pendandatangan Perjanjian Liggarjati. Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, dengan menyebar mata-mata itu, maka Belanda mengetahui posisi pertahanan pejuang. ”Apalagi para spionase itu direkrut dari orang pribumi,” bebernya.


Sehingga, pasukan kolonial pun mampu merangsek ke wilayah Mojokerto tanpa kendala. Bahkan nyaris tak ada kontak senjata langsung dengan para pejuang. Yuhan mengatakan, mata-mata direkrut dari pasukan yang dinamakan Barisan Tjakra.


Dia menyebutkan, sebagian besar mata-mata tersebut berasal dari etnis Madura yang tinggal di Surabaya. Sehingga memiliki kesamaan bentuk fisik dengan warga lokal dan pejuang di Mojokerto. ”Akhirnya mereka dapat leluasa melakukan aksi tanpa dicurigai,” bebernya.


Penulis buku Revolusi Di Pinggir Kali ”Pergerakan Di Mojokerto Tahun 1945-1950” ini menambahkan, selain menggali pertahanan pejuang, mata-mata Barisan Tjakra itu juga bertugas untuk menyebarkan kabar bohong kepada masyarakat Mojokerto.


Yuhan menyebutkan jika isu yang disebar para spionase saat itu adalah akan ada tentara republik yang menggelar latihan perang di Mojokerto. Informasi itu pun segera menyebar luas dari mulut ke mulut.


Kabar latihan perang tentara republik itu pun mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Terlebih, isu yang disebar juga menyebutkan jika latihan tersebut juga turut mendatangkan peralatan perang modern milik pemerintah Indonesia. ”Tentu berita latihan perang waktu itu membuat rakyat di Mojokerto bangga,” ungkapnya.


Tepat pada Minggu, 17 Maret 1947, rombongan kendaraan lapis baja datang ke Mojokerto. Kendaraan tempur tersebut datang secara konvoi dari arah Brangkal. Di barisan depan, terdapat gambar Soekarno dan Hatta yang terpasang di depan tank dan panser. Tak hanya itu,  bendera merah putih juga terpasang di atasnya.


Kedatangan rombongan pun mendapat sambutan warga. ”Padahal, di dalam kendaraan tempur itu sebesarnya adalah serdadu Belanda,” terang warga yang tinggal di Desa Kedungsari, Kecamatan kelmlagi, Kabupaten Mojokerto ini.


Akibatnya, wilayah Kota Mojokerto berhasil diduduki penguasaan Belanda. Bahkan, kembalinya pasukan kolonial pasca proklamasi itu tidak ada perlawanan dari tentara republik. Pasalnya, para pejuang akhirnya meninggalkan kota.


Yuhan menambahkan, selama di Mojokerto Barisan Tjakra yang berjumlah satu kompi menempati markas di Jalan Pemuda. ”Barisan Tjakra meninggalkan Mojokerto menjelang akhir tahun 1949 dan ditarik kembali ke Surabaya,” pungkas Yuhan.

Editor : Imron Arlado