Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Aminuddin-Nawal Ingin Gerakkan Literasi dan Kembangkan Bakat

Moch. Chariris • Selasa, 3 November 2020 | 02:40 WIB
aminuddin-nawal-ingin-gerakkan-literasi-dan-kembangkan-bakat
aminuddin-nawal-ingin-gerakkan-literasi-dan-kembangkan-bakat

Muhammad Aminuddin Zulfi dan Nawal Yahdillah telah resmi dinobatkan sebagai Duta Santri Pelajar Mojopahit 2020. Dua remaja tersebut berhasil mengungguli 200 lebih peserta lain sejak tahap audisi hingga menembus grand final.


NAWAL Yahdillah masih sulit mempercayai jika dirinya telah menyandang status sebagai Duta Santri Pelajar Majapahit 2020 kategori Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Mojokerto.


Ia dinobatkan sebagai juara setelah mampu unggul dari 40 finalis yang masuk babak grand final yang dihelat di Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Kabupaten Mojokerto, Minggu (1/11).


Pasalnya, gadis yang baru menginjak usia 21 tahun pada 3 Oktober lalu itu sejak awal tidak memasang target juara. Bahkan, awalnya Nawal mengaku sempat minder ketika ditawari untuk ikut serta dalam duta santri mewakili Pimpinan Anak Cabang (PAC) NU Pungging.


’’Soalnya waktu itu saya merasa belum bisa,’’ terangnya. Hingga akhirnya, perempuan asal Desa Kalipuro, Kecamatan Pungging, ini memutuskan untuk mengikuti ajang tersebut. Nawal menyatakan, keputusan itu diambil dengan alasan untuk mencari pengalaman saja.


Maklum, dia mengaku belum pernah mengikuti kompetisi serupa sebelumnnya. ’’Saya ingin nambah ilmu saja. Targetnya itu,’’ paparnya. Santriwati Pondok Pesantren Sabilulrrosyad Gasek, Malang, ini ingin memperdalam tentang public speaking dan beauty class.


Karena itu, dari tiga tahapan kompetisi di Duta Santri Pelajar Majapahit 2020, dirinya sempat tidak menyangka mampu masuk 40 besar dari 200 lebih peserta.


Bahkan, pada babak grand final, mahasiswi jurusan matematika Universitas Negeri Malang (UM) ini juga merasa terkejut ketika selempang Duta Santri Pelajar Majapahit 2020 disematkan kepadanya.


Selain tidak menargetkan juara sejak awal mendaftar jadi peserta, dirinya juga merasa belum optimal selama mengikuti audisi. ’’Seperti surpise, kok Nawal (yang dinobatkan duta santri), terus gimana ini nanti,’’ herannya.


Namun, diakuinya, jika dia mempersiapkan diri secara matang sejak memutuskan mendaftar jadi peserta. Karena merasa masih banyak kekurangan, Nawal menggali berbagai referensi sebagai bekal untuk mengikuti ajang duta santri.


Sumber pengetahuan itu diserap dengan cara membaca dan menulis kembali materi-materi yang dipelajari. Untuk mengasah kelancaran berbicara di depan publik, Nawal pun belajar berpidato di depan cermin. Berkat usaha itulah dia berhasil melewati proses seleksi yang cukup ketat.


Karena itu, sebagai Duta Santri Pelajar Majapahit 2020, alumnus SMAN 1 Sooko ini ingin mengajak kaum milenial, khususnya pelajar dan santri di Kabupaten untuk lebih aktif berliterasi. ’’Saya sendiri bukan tipe orang yang suka baca, tapi literasi penting. Karena apapun kalau tidak ditulis, itu bakal hilang,’’ tandas Nawal.


Berbeda halnya dengan Muhammad Aminuddin Zulfi, 20, remaja yang juga dinobatkan sebagai Duta Santri Pelajar 2020 kategori Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Mojokerto ini memang cukup kenyang pengalaman dalam mengikuti ajang publik speaking sejak duduk di bangku kuliah.


Karena itu, mahasiswa semester VII jurusan matematika Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini langsung tertantang mengikuti duta santri. Dan selama proses audisi hingga grand final, remaja asal Desa Brayung, Kecamatan Puri, ini nyaris tanpa ada kendala.


Namun, pria yang akrab disapa Aam ini, mengaku harus melakukan persiapan khusus untuk mendalami tentang pengetahuan isu-isu keagamaan. ’’Tapi, karena ini duta santri, materinya berbeda dengan ajang duta-duta yang lain,’’ imbuhnya.


Aam mengaku tidak mudah memikul beban sebagai duta santri. Pasalnya, setiap tindak tanduknya akan mencerminkan wajah atau figur seorang santri. Oleh karena itu, meski dinobatkan sebagai duta santri, dia mengaku akan terus belajar dan lebih aktif di keorganisasian.


’’Langkah pertama mungkin itu dulu. Untuk selanjutnya, saya ingin lebih meningkatkan pengembangan bakat minat di Kabupaten Mojokerto,’’ pungkas Aam. (abi)



 

Editor : Moch. Chariris