Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Resolusi Jihad: Panggilan Semangat Nasionalisme Santri

Moch. Chariris • Jumat, 23 Oktober 2020 | 05:30 WIB
resolusi-jihad-panggilan-semangat-nasionalisme-santri
resolusi-jihad-panggilan-semangat-nasionalisme-santri

 Memutuskan : 


1.  Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikapdan tindakan yang nyata, serta sepadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan kemerdekaan agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap fihak Belanda dan kaki tangan.


2. Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat ”sabilillah” untuk tegaknya NegaraRepublik Indonesia Merdeka dan Agama Islam. 


DUA putusan para alim ulama Nahdlatul Ulama (NU) hasil rapat Hoof Bestuur Nahdlatul Oelama (HBNO) yang sekarang disebut Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Bubutan VI Nomor 2 Surabaya yang dilakukan dua hari  21-22 Oktaber 1945 inilah, membuat para santri dan umat Islam merasa terpanggil membela kemerdekaan bangsa dan negara menjadi beringas dan pemberani.


Dua putusan ini juga merupakan akibat (bukan sebab) timbulnya hari Pahlawan 10 November 1945. Karena tidak mungkin seorang berkumpul dengan penuh semangat nasionalisme jadi beringas dan berang melawan Netherland Indies Civil Administration (NICA) tanpa ada kekuatan yang mendukung, tanpa ada semangat bekal keyakinan dan rasa optimisme yang mendorong.


Selain itu, dua putusan ini juga untuk merespons pertanyaan Presiden Soekarno terhadap Rais Akbar PBNU Hadratusy Syekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, lantaran sejak Indonesia diproklamasikan kemerdekaannya (17 Agustus 1945) sampai pada Oktober 1945 belum ada negara lain yang mengakui kemerdekaan Indonesia atau mengakui Indonesia sebagai negara.


Ini karena propaganda pemerintah Belanda yang menyebarluaskan berita ke seluruh dunia, bahwa Republik Indonesia merupakan negara boneka buatan fasisme Jepang.


Karena pemerintah Indonesia belum membentuk organisasi pertahanan negara secara resmi (tentara), maka dengan semangat dua putusan Resolusi Jihad inilah seluruh santri yang dikomando oleh santri bernama Bung Tomo terjun langsung ke medan perang melawan sekutu dan NICA.


Para ulama juga teribat langsung, seperti halnya KH Masykur (Malang), yang memimpin langsung Laskar Sabilillah, KH Zainul Arifin Pohan, tokoh ulama asal Barus, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara ini, memimpin Laskar Hisbullah. Kedua markas besar ini pertama kali bertempat di Malang yang sekarang ini ditandai dengan Masjid Sabilillah.


Sementara, KH Abdul Wahab Chasbullah memimpin laskar Mujahidin. KH Muhammad Hasyim Latif, KH Munasir Ali, dan KH Wahid Hasyim juga langsung menyerukan seluruh pondok pesantren dan kantor NU dari seluruh tingkatan segera menjadi markas Sabilillah, Hizbullah, dan Mujahidin. Markas inilah menghimpun para santri dan pemuda Islam yang rela berjuang dengan semangat nasionalisme yang tinggi, meski dengan persenjataan yang sangat terbatas.



Dengan begitu seluruh ulama pesantren dan santrinya terjun ke gelanggang perang. Para pemuda Islam juga berdatangan untuk meminta doa restu, gemblengan, dan kekebalan untuk mempertebal tekat menghadapi sekutu dan NICA.


Dampak Resolusi Jihad ini ternyata memiliki pengaruh yang luar biasa dalam memompa semangat nasionalisme para santri dan pemuda Islam untuk berjuang. Resolusi Jihad inilah yang menjadi akibat semangat juang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Resolusi Jihad menanamkan nasionalisme dan patriotisme perlawanan rakyat terhadap kolonialisme yang telah mengakar berabad-abad lamanya. (*)

Editor : Moch. Chariris