Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Jadi Gudang Logistik saat Revolusi Tahun 1946-1947

Moch. Chariris • Kamis, 18 Juni 2020 | 22:00 WIB
jadi-gudang-logistik-saat-revolusi-tahun-1946-1947
jadi-gudang-logistik-saat-revolusi-tahun-1946-1947

SEMENTARA itu, seiring meletupnya pertempuran di masa revolusi, bekas gedung MULO dan Sekolah Pertanian Noogako sempat berubah fungsi. Struktur bangunan yang kukuh tersebut pernah digunakan sebagai tempat penyimpanan logistik untuk kebutuhan pertempuran sepanjang tahun 1946-1947.


Yuhan menceritakan, berubahnya fungsi gedung pendidikan itu bermula dengan kedatangan para pejuang yang terpukul mundur dari Surabaya pada akhir 1945. Sebab, selama hampir tiga pekan Kota Pahlawan dibombardir oleh tentara Inggris. Salah satu tujuan adalah Kota Mojokerto yang dinilai masih aman.


”Sejak sat itu, Mojokerto dijadikan sebagai markas para pejuang kemerdekaan,” tandasnya. Gelombang pengungsian tidak hanya bertujuan menyelawmatkan nyawa, tetapi turut dibawa juga harta benda berharga. Di sisi lain, mundurnya para pejuang tersebut juga untuk mengevakuasi korban.


Bahkan, turut dibawa pula perbekalan logistik untuk kebutuhan pertempuran. Yuhan mengatakan, perbekalan itu di antaranya berupa amunisi, bahan pakaian, obat-obatan dan logistik lainnya. ”Barang-barang itu penting untuk diselamatkan guna meneruskan perlawanan,” paparnya.


Jumlah logistik tersebut terbilang cukup besar. Sedikitnya membutuhkan lima truk untuk mengungsikan perbekalan. Dengan jumlah sebanyak itu, proses pengungsian pun tidak mudah dilakukan. Sebab, para pejuang harus menghindari intaian pesawat musuh agar tidak diserang dari udara. ”Akhirnya pemindahan dilakukan pada malam hari sehingga lebih aman,” imbuhnya.


Kebutuhan logistik tersebut kemudian ditempatkan di Nogyo Gakko atau Sekolah Pertanian di Mojokerto. Dipilihnnya gedung yang berada di Jalan Gajah Mada itu karena dijadikan markas API Mojokerto. Di sisi lain, imbuh Yuhan, lokasi penyimpanan perbekalan juga dinilai cukup strategis. Sebab, letaknya cukup dekat dengan Stasiun Kereta Api (KA) Mojokerto.


Selain itu, gedung yang kini menjadi SMPN 1 Kota Mojokerto ini juga berhadapan dengan RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo lama sebelum dipindah di Jalan Surodinawan saat ini. ”Keberadaan stasiun dan rumah sakit sangat penting saat terdapat korban luka dalam pertempuran,” bebernya.


Selain menjadi gudang logistik, gedung eks sekolah MULO itu juga dijadikan asrama bagi para pejuang pelajar asal Surabaya. Mereka juga sempat menjalankan kegiatan sekolah darurat di sela-sela bertempur di garis depan. Namun, aktivitas pejuang di bekas gedung sekolah pertanian itu terpaksa harus berhenti.


Penyebabnya adalah kembalinya tentara Belanda masuk ke Mojokerto pada Maret 1947. Barang logsitik pun terpaksa ditinggalkan, termasuk sebagian besar senjata. Hingga kini, gedung peninggalan Belanda masih terawat dan terjaga keasliannya. Selain struktur bangunan yang masih orisinal, pilar-pilar kayu penyangga gedung juga masih kuat menyangga atap.


Pun demikian dengan ornamen pintu dan jendela di 13 ruang yang sebagian besar tetap difungsikan sebagai kelas. Termasuk keberadaan dua brankas yang juga masih utuh. 



 

Editor : Moch. Chariris