BANYAK cerita peninggalan sejarah yang tidak banyak didengar masyarakat. Seperti Candi Mahkota Prabu, di Dusun Blentreng, Desa Ngembat, Kecamatan Gondang ini. Candi di lereng puncak Gunung Welirang itu kondisinya masih berdiri kokoh. Diduga dibangun pada masa Mataram Kuno sebelum Kerajaan Singosari.
Sebelum akhirnya menikmati benda cagar budaya warisan leluhur, selama perjalanan, pendaki dimanjakan oleh panorama indah. Suasana dan aroma khas seolah menemani perjalanan selama tiga jam berjalan kaki ini. Pengunjung akan melewati Gua Selo atau Watu Payung. Disebut Watu Payung karena bentuknya yang menyerupai payung.
’’Saat kita berada di bawahnya tidak usah takut kehujanan atau kepanansan,’’ ujar Candra Andi Lugis, ketua Majapahit Lelono (Mole). Di watu payung ini pendaki memilih beristirahat untuk mengembalikan stamina. ’’Dibuat bermalam juga bisa,’’ lanjutnya.
Candra menceritakan, memang tidak banyak yang tahu soal keberadaan candi bernilai sejarah tersebut. Selain karena letak geografisnya, untuk sampai di lokasi dibutuhkan waktu berjam-jam. ’’Jika ke sana kita harus menyusuri jalan setapak di areal persawahan, dan masuk ke hutan Tahura (Taman Hutan Rakyat),’’ jelasnya.
Namun, di balik itu semua, diam-diam menyimpan cerita unik. Dari beberapa keterangan yang didapat, candi yang usianya sudah berabad-abad ini memiliki banyak versi cerita rakyat. Bahkan mitos. ’’Salah satunya adalah cerita tentang seorang petani pelit,’’ tegasnya. Konon, pada masa itu, ada dua saudara. Sayang, keberuntungan dan rizeki keduanya tidak sama.
Di satu sisi, saat panen tiba, salah satunya menghasilkan padi melimpah. Sedangkan, nasib satunya lagi berbalik. Ya, mengalami gagal panen. Karena tidak memiliki persediaan cukup, si gagal panen pun berniat meminjam padi kepada saudaranya.
Namun, karena sifat dasar pelit, membuat si panen berlimpah itu enggan membantu saudaranya.’’Karena tersinggung, si gagal panen pun menyabda lewat doa. Supaya padi yang bertumpuk-tumpuk menjadi batu,’’ bebernya. Alhasil, padi yang berlimpah pun berubah menjadi batu. Dan, sekarang disebut sebagai Candi Pari.
Candra menyatakan, dari beberapa sumber yang dipelajari, bentuk struktur batu candi diperkirakan dibuat pada masa Mataram Kuno. Atau sebelum Kerajaan Singosari. Selain itu, pada masanya diperkirakan berfungsi sebagai bertapa para raja. ’’Sekilas, bentuknya memang menyerupai sebuah mahkota raja. Makanya, dinamakan Candi Mahkota Prabu,’’ tandasnya.
Namun, candi di puncak gunung tengah hutan atau berjarak 8 Km dari Kecamatan Gondang itu belum banyak dikenal masyarakat luas. ”Cuma, katanya dulu, tahun 2014 dinas terkait pernah berkunjung untuk sekadar melakukan pendataan dan mendukumentasi saja,” paparnya.
Editor : Moch. Chariris