ANGGAPAN masyakarat yang meyakini petirtaaan Jolotundo berkhasiat mampu menyembuhkan segala bentuk macam penyakit tampaknya tak terlalu mempengaruhi dinamika pandangan hukum di kalangan pemuka agama, khususnya Islam.
Pasalnya, selama ini, Petirtaan Jolotundo memang bukan tempat yang dikultuskan atau dikeramatkan, sehingga mampu merubah mindset pengunjung saat berada di situs peninggalan Raja Airlangga itu. Pun demikian pula dengan kandungan sumber air yang disebut-sebut mampu menyembuhkan segala bentuk macam penyakit.
Jika masih dianggap hanya sebagai media perantara penyembuhan penyakit, anggapan tersebut bukan persoalan yang patut diperdebatkan. Pernyataan inilah yang diungkapkan KH Saifudin Zuhri, Ketua Komisi Fatwa MUI Kabupaten Mojokerto.
Menurutnya, Jolotundo memang tempat bersejarah yang memiliki sumber air berkualitas tinggi. Sehingga, menarik minat wisatawan untuk mengunjungi bangunan candi yang dibangun pada abat ke X pada masa Empu Sindok itu. Tak hanya berkunjung, sejumlah wisatawan bahkan turut mengambil air yang keluar dari sela-sela batu andesit yang tersusun.
Hal itu lantaran air sumber Jolotundo disebut-sebut memiliki kandungan TDS (total disolved solid) atau jumlah logam yang terlarut dalam air nol persen. ’’Sepanjang itu (Air Jolotundo, Red) hanya dijadikan media atau wasilah, saya kira no problem. Media kan bisa apa saja, termasuk obat,’’ terangnya.
Ya, banyak pertanyaan yang muncul dari fenomena khasiat dari air Jolotundo untuk penyembuhan penyakit. Salah satunya adalah bagaimana pandangan hukum Islam atas anggapan tersebut. Selama ini, pihaknya belum menemukan sifat aneh yang muncul atas pengambilan air Jolotundo hingga memunculkan sifat ingkar atau syirik.
Bahkan, fenomena air Jolotundo bisa jadi sama halnya dengan air gentong di makam Sunan Ampel Surabaya maupun makam wali lainnya. ’’Toh juga di makam Sunan Ampel juga katanya untuk pengobatan. Tidak ada masalah juga, asalkan bukan sifat yang menimbulkan sifat ingkar, apalagi syirik,’’ terangnya.
Pria yang akrab disapa Gus Zuhri ini menambahkan, air berkhasiat yang dipercayai kalangan umat Islam sebenarnya juga tak kalah ampuh. Sumber air zamzam di Tanah Suci bahkan disebut-sebut sebagai yang air berkualitas terbaik tertinggi di dunia.
Sebutan itu sempat pula dia buktikan saat mengonsumsi air zamzam yang tersimpan selama 10 tahun sejak mendapatkan tahun 2007 silam. Ternyata kesegaran air zamzam tidak berubah, dan justru melipatgandakan energi dalam tubuh, meskipun tanpa asupan makanan. ’’Jadi, tetap niatnya adalah meminta kesembuhan kepada Allah SWT melalui media air. Yang mengambil itu juga kan masih saudara-saudara kita,’’ tambahnya.
Editor : Moch. Chariris