Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Jadi Ritual Malam 1 Sura, Tempat Mandi Bangsawan

Moch. Chariris • Minggu, 30 Juli 2017 | 17:40 WIB
jadi-ritual-malam-1-sura-tempat-mandi-bangsawan
jadi-ritual-malam-1-sura-tempat-mandi-bangsawan

SALAH satu budayawan, Ki Purbo Joyodiningrat menyatakan, Petirtaan Jolotundo memang dianggap sebagai pemandian suci. Ini tak lepas dari air yang bersumber dari Gunung Penanggungan atau biasa disebut Pawitra.


Meski di musim kemarau airnya seolah tak pernah habis. Menurut warga Desa Kertosari, Kecamatan Kutorejo ini, Petertiaan Jolotundo menjadi tempat yang disucikan oleh para pendeta, biksu, empu, dan pinisepuh. ’’Orang terdahulu mencari patirtaan dari gunung ke gunung yang memiliki energi positif, seperti Jolotundo,’’ katanya.


Tak heran, jika selama ini, air Jolotundo selalu dipakai dalam ritual kegamaan dan ruwatan. Seperti Malam 1 Sura, dan ruwah projo. Disamping sebagai bentuk syukur, juga diyakini dapat membuang sial. ’’Dulunya, memang air itu tempat mandi para bangsawan kerajaan,’’ imbuhnya.


Menurutnya, selama ini wilayah Penanggungan menjadi area pensucian jiwa dan raga alias tempat semedi (bertapa). Jika melihat lebih detail, bangunan Candi Jolotundo berbahan batu andesit terlihat lebih istimewa dibanding candi lainnya. Banyak pahatan dan relief tidak biasa diukir di situs tersebut. Seperti, pada 52 pancuran air yang ada di dinding-dinding candi. ’’Hasil penelitihan, kualitas airnya memiliki kesamaan air zamzam,’’ tambahnya.



Banyak pengunjung yang datang. Lebih-lebih saat Malam Jumat Legi dan Malam 1 Sura. Mereka melakukan ritual mandi dan berdiam diri. Sedangkan, pada ritual keagamaan, Jolotundo dipilih sebagai lokasi bagi umat Hindu karena kesuciannya. Apalaagi candi ini sebagai peninggalan kerajaan masa pemerintahan Raja Udayana, ayah dari Raja Airlangga. ’’Kayakinan itu berdasarkan pahatan-pahatan yang ada di pemandian,’’ pungkasnya.

Editor : Moch. Chariris
#petirtaan jolotundo