Limbah Kelapa Timbulkan Bau Menyengat dan Sumur Tercemar
PUNGGING - Warga Desa/Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto mengeluhkan terkait pencemaran lingkungan di permukiman. Selain menimbulkan bau menyengat, air sumur warga juga terkontaminasi diduga dari sisa produksi pengolahan kelapa.
Keluhan tersebut disampaikan Sri, warga Dusun Pungging, RT 02/RW 03, Desa/Kecamatan Pungging. Sebab, rumahnya berada persis di samping tempat home industry pengolahan kelapa. Dia menyebut hampir setiap hari harus mencium aroma tak sedap yang berasal dari gudang produksi. Dugaan pencemaran udara itu telah dirasakan dalam beberapa tahun terakhir. ’’Sudah lama bau seperti ini. Baunya itu dari limbahnya kelapa,’’ ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, Selasa (29/7).
Dikatakannya, sumber bau tersebut berasal dari air pencucian dan sisa kulit dan daging kelapa. Sebab, ungkap Sri, sisa bahan baku produksi itu menimbulkan aroma cukup menyengat saat proses penjemuran. ’’Pas dijemur itu kan baunya ke mana-mana kalau belum kering,’’ imbuhnya.
Tak hanya itu, sumur miliknya kini juga terpaksa ditutup secara permanen. Mengingat, airnya sudah tidak layak konsumsi karena berubah warna menjadi pekat dan berbau. ’’Sumur nggak bisa dipakai, karena airnya itu hitam dan berbau,’’ sebutnya.
Hingga akhirnya, Sri terpaksa membuat sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bersih di rumahnya. Keluhannya makin memuncak karena juga terdampak akibat polusi suara. Terlebih, proses produksi pengolahan kelapa yang disertorkan ke salah satu industri ini tak jarang berlangsung hingga larut malam. ’’Kalau malam itu suaranya sangat mengganggu sekali. Macak (kupas, Red) kelapanya kan ada yang manual, ada yang pakai mesin,’’ bebernya.
Keluhan yang sama juga dirasakan masyarakat Dusun/Desa Pungging lainnya. Heri, salah satu warga juga menyebut air sumurnya juga terdampak pencemaran. Jangankan dikonsumsi, untuk mandi saja dia menyatakan airnya tidak layak. ’’Karena hitam kayak air selokan,’’ sambungnya.
Sama seperti yang dilakukan Sri, dia juga memilih untuk membuat sumur bor. Untuk mendapat mata air yang lebih jernih, titik pengeboran dilakukan di lokasi yang lebih jauh dari tempat produksi pengolahan kelapa yang berada di depan rumahnya. ’’Mungkin penyebabnya dari sisa air kelapa, soalnya kan waktu nyuci kan meluber ke mana-mana,’’ sebut dia.
Senada, Yudi, warga yang tinggal di RT 02/RW 03 juga mengalami dampak yang sama. Meski tak sampai mencemari air sumur, namun aroma menyengat dinilai sangat mengganggu kenyamanan warga. ’’Harapannya kalau bisa ya direlokasi atau gimana gitu,’’ imbuh dia.
Sementara itu, Kades Pungging Paiman membenarkan adanya home industry pengolah kelapa yang berada di Dusun Pungging. Menanggapi terkait keluhan masyarakat, dia mengaku juga telah mendapatkan laporan dari perangkat. ’’Ya, terkait dengan usulan dan keluhan dari warga sudah disampaikan waktu rapat bersama, termasuk dengan RT,’’ paparnya.
Menurutnya, pengaduan warga telah diakomodir dan akan ditindaklanjuti. Rencananya, polemik terkait dugaan pencemaran lingkungan itu bakal dicari jalan keluarnya melalui musyawarah dengan pemilik usaha yang kini sedang menempuh ibadah umroh. ’’Mungkin rencananya kami lakukan mediasi biar terang dulu duduk permasalahannya seperti apa,’’ pungkasnya. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto