Bantuan diserahkan Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari kepada pemilik rumah, Nukan, Senin (29/6). Menurut Ning Ita, sokongan logistik ini merupakan bentuk kepedulian pemkot. Bantuan diberikan untuk memenuhi kebutuhan dasar setelah insiden kebakaran yang meludeskan rumah korban pada Kamis (4/6) itu. ’’Bantuan ini diharapkan dapat sedikit membantu,’’ ujarnya.
Bantuan barang yang diterima pensiunan guru swasta itu antara lain berupa lemari kayu dua pintu, satu set meja kursi, dipan, lemari plastik, kasur, kompor dua tungku, tabung LPG 3 kilogram, mejikom. Selain itu, warga Jalan Argopuro I juga diberi peralatan makan dan memasak, pakaian, serta paket sembako.
Bantuan dengan nilai total Rp 15 juta itu disalurkan melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kota Mojokerto.
Di samping membantu memenuhi kebutuhan rumah, lanjut Ning Ita, proses rehabilitasi rumah juga menjadi perhatian pemkot. Upaya pemulihan bangunan dilakukan melalui kolaborasi dan gotong royong yang didukung gerakan sosial swadaya masyarakat setempat. ’’Pemerintah hadir bukan hanya ketika menjalankan program pembangunan, tetapi juga saat masyarakat mengalami kesulitan,’’ ucapnya.
Diberitakan sebelumnya, kebakaran hebat melanda rumah milik Nukan, di Jalan Argopuro 1, Kelurahan Wates, Kamis (4/6) dini hari. Insiden sekitar pukul 03.00 itu nyaris melalap seluruh bagian rumah milik perajin sangkar burung tersebut. ’’Total tiga armada PMK kami libatkan untuk pemadama, satu dari kabupaten,’’ ujar Komandan Regu Damkar Kota Mojokerto Suyitno kepada Jawa Pos Radar Mojokerto pasca kejadian.
Banyaknya material kayu bahan sangkar burung membuat api dengan mudah meluas. Proses pemadaman memakan waktu sekitar empat jam kemudian. Tak ada korban dalam insiden ini, namun amukan si jago merah meludeskan sejumlah perabot.
Kebakaran diduga dipicu api putung rokok yang menyambar tumpukan sangkar burung dan material kayu. ’’Dugaan sementara karena putung rokok. Pemilik rumah awalnya merokok di depan, lalu rokoknya ditinggal ke belakang beri makan burung. Setelah itu ditinggal buang air besar ke kamar mandi, tahu-tahu api sudah besar,’’ jelas Suyitno. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah