BBM Subsidi Langka, Daya Beli Turun
KOTA - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar di wilayah Mojokerto Raya kian menyusahkan para sopir angkutan barang. Para perantara logistik pangan ini harus memutar otak dan merogoh kocek lebih dalam demi memastikan barang dagangan sampai di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto.
Situasi sulit tersebut memaksa sejumlah sopir mengambil keputusan pahit. Iskandar, salah satu sopir angkutan barang asal Pasuruan menyatakan, pihaknya terpaksa beralih ke BBM nonsubsidi demi mengejar waktu pengiriman.
”Solar subsidi sangat langka, sejak dari Pasuruan hingga Mojosari kosong. Saya terpaksa membeli BBM jenis solar Dexlite yang harganya jauh lebih tinggi. Kalau tidak begini, barang tidak bisa jalan,” ujar Iskandar, kemarin (26/6).
Senada disampaikan Reza, sopir pengangkut sayuran asal Pare, Kabupaten Kediri. Sepanjang perjalanan dari Kediri menuju Kota Mojokerto, ia mengaku cemas karena hampir seluruh (SPBU) yang didatangi kehabisan stok solar subsidi.
”Ini tangki hanya sisa 10 liter saja. Semoga cukup untuk perjalanan pulang ke Kediri. Untuk kirim barang besok pagi (hari ini, Red) saya entah bisa jalan atau tidak, karena solarnya tidak tahu ada atau tidak,” keluh Reza. Para sopir angkutan kebutuhan dapur rumah tangga ini berharap, pemerintah segera mengatasi kelangkaan solar dan menstabilkan kembali roda perekonomian Indonesia.
Di sisi lain, dampak kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan Pertalite turut dirasakan pedagang bahan pokok (bapok) di Pasar Rakyat, Kota Mojokerto. Mereka mengeluhkan pengiriman pasokan barang dari petani atau tengkulak mulai tersendat, terhitung sejak Selasa (23/6).
Akibatnya, stok barang di sejumlah lapak pedagang berkurang dari biasanya. Seperti yang dirasakan Ardian Firmansyah, pedagang aneka bumbu dapur di Pasar Tanjung Anyar yang sudah beberapa hari ini stok jualannya menipis. Khususnya untuk cabai, bawang merah, dan bawang putih yang dipasok dari luar daerah, seperti Nganjuk, Kediri, hingga Situbondo.
Informasi yang ia terima, tersendatnya distribusi ini karena petani kesulitan mencari solar. Akibatnya, pedagang terpaksa mencari tengkulak atau petani lain yang mendapat pasokan BBM dan bisa mendistribusikan bahan pokok ke pasar. Meski belum sampai memengaruhi harga jual barang, kondisi ini cukup membuat gelisah para pedagang.
’’Petaninya mengeluh karena sulit dapat solar. Untuk pasokan sebenarnya masih aman, cuman tersendat pengiriman. Kami sendiri terpaksa harus rebutan sesama pedagang agar bisa mendapat pasokan,’’ terangnya, Kamis (25/6).
Tidak hanya stok, pedagang juga mulai merasakan penurunan daya beli konsumen, terhitung sejak sepekan terakhir. Penurunan ini diakui Ardian telah menjadi fenomena tahunan. Di mana sebagian besar masyarakat mendahulukan biaya sekolah anak-anaknya di momentum pergantian tahun ajaran baru seperti saat ini. ’’Biasanya mulai pertengahan Juni sampai Juli kondisi pasar sepi. Tahun-tahun sebelumnya juga selalu seperti ini,’’ tambahnya.
Untuk harga bapok, Ardian mengaku beberapa jenis masih berada di patokan tertinggi. Seperti bawang merah yang bertengger di angka Rp 40 ribu per kilogram (kg) sejak Lebaran, Maret lalu. Pun demikian dengan bawang putih yang masih fluktuatif mulai Rp 38-40 ribu per kg. Sedangkan cabai, relatif stabil di angka Rp 40-45 ribu per kg. ’’Harga juga masih aman, hanya bawang merah yang belum turun,’’ tambahnya.
Menanggapi kondisi ini, Kabid Perdagangan Diskopukmperindag Kota Mojokerto Ulfa Khafidah menegaskan stok dan harga bapok cenderung aman. Bersama tim, pihaknya terus memantau pasokan setiap hari di pasar tradisional, baik Pasar Tanjung Anyar maupun Pasar Prajurit Kulon.
Tidak sekadar meng-update harga dan stok, Ulfa juga berkoodinasi tim siskaperbapo Disperindag Jawa Timur untuk memastikan ketersediaan serta perkembangan harga bahan pokok dan barang penting. ’’Untuk saat ini stok dan harga masih aman. Setiap hari kami pantau bersama tim dan dikoordinasikan dengan Disperindag Jatim untuk setiap perkembangannya,’’ terangnya. (fan/far/fen/ris)
Editor : Fendy Hermansyah