CERITA perubahan hidup juga datang dari Alya Maulida Zahra, 13. Bagi anak ketiga pasangan Lutfi Anton Happy Pranoto, 44, dan Fatichatul, 46, asal Dusun/Desa Gading, Kecamatan Jatirejo, ini SR mampu menerangi jalannya meraih cita-citanya menjadi seorang dokter. ’’Alhamdulillah, SR sangat membantu keluarga saya. Manfaat bagi saya sangat membantu meraih impian masa depan, karena cita-cita saya menjadi dokter,’’ ungkapnya.
Di sekolah ini pula, sebuah momen tak terlupakan berhasil mengikis rasa minder dalam dirinya. Pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026, ia mendapat kesempatan emas yang tak pernah terbayangkan seumur hidupnya.
Alya bersama empat temannya berkesempatan berpidato multibahasa di hadapan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Meliputi, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Jerman, dan bahasa Jepang. ’’Saya sendiri berpidato bahasa Arab. Meskipun saya agak grogi, tetapi itu terkesan banget bagi saya. Bisa jadi motivasi dan membuat saya semakin percaya diri,’’ kenang Alya penuh bangga.
Momen bersejarah ini jadi bukti jika anak wong cilik mampu berdiri tegak dan memukau para pemimpin daerah jika diberikan panggung setara. Sama seperti Bayu, setahun menempa diri di lingkungan boarding school membuat Alya tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih mandiri dan disiplin. Menariknya, kurikulum SR berhasil menyeimbangkan antara pelestarian kearifan lokal, seni kreatif, hingga teknologi mutakhir.
Anak buruh tani ini, juga menguasai berbagai keterampilan. Mulai dari meracik jamu tradisional, seni sabun pahat, melukis, hingga teknik cetak kain alami (ecoprint). Bakat yang terpendam selama ini juga diasah melalui gurita kegiatan ekstrakurikuler. Seperti English Club, tahfidz, qiroah, Pramuka, paduan suara, menari, musik, hingga coding atau programer.
Di antara sekian banyak ekstrakurikuler, dunia coding rupanya memikat perhatiannya. Ketika anak-anak seusianya hanya menjadi konsumen teknologi, Alya melangkah sebagai kreator di balik layar. ’’Zaman kan sudah maju. Di dalam coding, kita membuat instruksi untuk menggerakkan permainan (game). Kita bisa mengerti jika ada kata yang tidak efektif, maka permainan tidak akan berjalan sesuai dengan harapan. Dari sana kita belajar membuat suatu permainan dan masih banyak lagi,’’ jelas Alya.
Kisah Bayu dan Alya menjadi representasi dari 50 anak yang hari ini tidak lagi memandang masa depan dengan tatapan kosong. Di balik fasilitas pendidikan berasrama gratis, pembentukan karakter religius, dan pembekalan keterampilan digital, program strategis Presiden Prabowo Subianto ini telah berhasil mengembalikan hak paling mendasar bagi anak-anak prasejahtera. Hak untuk berani bermimpi.
SR terbukti bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan sebuah inkubator kemanusiaan. Lewat program strategis ini, negara hadir bukan hanya untuk memberi bantuan sesaat sarat seremonial. Namun, investasi sumber daya manusia (SDM) jangka panjang yang menyasar langsung ke jantung persoalan kemiskinan struktural. SR berhasil mengubah cara pandang anak-anak prasejahtera.
Mereka yang dulunya minder dan insecure kini memiliki kepercayaan diri dan modal keterampilan untuk bersaing di kancah global. Dari tempat inilah, prajurit calon TNI dan dokter masa depan sedang ditempa untuk siap mengubah nasib keluarga, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi bangsa. (ori/ris)
Editor : Fendy Hermansyah