MOJOKERTO RAYA - Penerapan sistem pembayaran yang mengutamakan transaksi nontunai di bus Trans Jatim berpotensi menggerus minat masyarakat terhadap angkutan umum milik Pemprov Jatim itu.
Kendati tetap memberi peluang kepada masyarakat yang tak memiliki akses uang elektronik, kebijakan menomorduakan pembayaran secara tunai dinilai akan memengaruhi persepsi penumpang. ’’Meskipun nantinya penumpang dengan alasan tertentu bisa membayar secara tunai, tapi kalau melihat semangatnya kan yang diutamakan tetap nontunai,’’ kata Pembina Lembaga Pemantau Pembangunan dan Kinerja Pemerintah (LP2KP) Mojokerto Rif’an Hanum, kemarin (16/6). ’’Ini yang bisa menimbulkan kesan ”sekarang bayar Trans Jatim” ribet,’’ imbuhnya.
Menurut Rif’an, migrasi ke sistem digital secara total yang hendak diterapkan manajemen Trans Jatim perlu diimbangi dengan pengukuran risiko berkurangnya pelanggan. Pasalnya, pihaknya menilai, peniadaan pembayaran tunai berisiko menggerus jumlah penumpang. ’’Ini lebih dampak psikologis dan persepsi orang, karena yang biasanya bisa langsung bayar pakai cash akan ditanya dulu apakah punya QRIS atau e-wallet,’’ tutur pengacara asal Mojokerto tersebut.
Rif’an menyatakan, tujuan pengalihan sistem pembayaran 100 persen ke nontunai sebetulnya bagus. Ia berharap Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim dapat memaksimalkan upaya sosialisasi dengan tetap mempertimbangkan reaksi dari masyarakat.
Rif’an juga mengingatkan, lahirnya angkutan murah ini menjadi salah satu upaya pemerintah mengajak masyarakat menggunakan transportasi publik alih-alih kendaraan pribadi. Karena itu, risiko tergerusnya pelanggan akibat migrasi sistem pembayaran perlu dihitung secara matang. ’’Semangatnya sebenarnya bagus ya, terutama meminimalkan fraud, tapi kalau risikonya ditinggal penumpang apakah mau dipertaruhkan,’’ ucap dia.
Data Dishub Jatim menyebutkan, rata-rata jumlah penumpang Trans Jatim koridor yang berangkat dari Terminal Kertajaya, Kota Mojokerto, antara 2.000-3.000 penumpang per hari. Angkutan publik ini diminati salah satunya karena tarifnya dianggap murah, yakni Rp 5 ribu untuk umum dan Rp 2,5 ribu untuk pelajar. Selama ini, penumpang bebas membayar secara tunai maupun nontunai lewat QRIS dan kartu uang elektronik.
Baca Juga: SMPN 8 Mojokerto Sukses Raih Sederet Prestasi, Kukuhkan sebagai Sekolah Terbaik
Sebelumnya, Kepala Seksi Sarana Angkutan Jalan Dishub Jatim Cito Eko Yuly Saputro mengatakan, pembayaran Trans Jatim yang selama ini berlaku secara hibrida antara tunai dan nontunai ditarget sudah sepenuhnya tanpa transaksi tunai (cashless) tahun ini. Penerapan kebijakan baru tersebut sedang disosialisasikan mulai bulan ini hingga bulan depan.
’’Penumpang yang tidak mempunyai kartu uang elektronik, tidak paham terkait gadget menggunakan QRIS atau e-wallet, nanti akan dibantu oleh petugas kami. Masyarakat yang sepuh-sepuh, yang tidak mempunyai uang elektronik, bisa titip bayar dengan uang cash ke pramugara-pramugari yang dibekali kartu uang elektronik,’’ jelasnya, Senin (15/6).
Selain bantuan pembayaran lewat petugas, lanjutnya, pemprov juga akan memberi stimulus dengan membagikan kartu pelanggan Trans Jatim atau KPT gratis kepada penumpang. Kartu elektronik tersebut bisa digunakan untuk menaiki bus setelah diisi saldo secara mandiri. Cito menuturkan, pembayaran nontunai secara penuh diterapkan untuk memangkas antrean dan mencegah fraud alias kecurangan dalam transaksi tunai. (adi/fen)
Editor : Imron Arlado