UPAYA pengurangan sampah plastik seyogianya dapat dimulai dari rumah tangga. Karena sekecil apa pun kontribusi di tingkat keluarga mampu membangun kesadaran kolektif di tengah masyarakat.
Ketua Bank Sampah Induk (BSI) Kabupaten Mojokerto Sisyantoko memaparkan, praktik sederhana dapat dimulai dari pemilahan sampah. Yakni dengan memisahkan jenis sampah anorganik dan organik sejak dari sumbernya atau skala rumah tangga. ’’Yang utama adalah di pemilahan sampah, karena pemilahan bisa dilakukan secara individu di rumah,’’ ungkapnya, kemarin (4/6).
Jika dilakukan secara konsisten, dari langkah kecil tersebut akan memberikan dampak yang lebih besar bagi lingkungan. Setidaknya dapat membentuk pembiasaan di lingkup keluarga. Bahkan, praktik ini juga dapat menggerakkan budaya peduli lingkungan di masyarakat untuk mengurangi produksi sampah. ’’Karena penanganan sampah adalah tanggung jawab bersama,’’ tandas pemerhati lingkungan yang akrab disapa Cak Toko ini.
Namun, upaya pemilahan sampah tersebut bukan tanpa tantangan. Karena tak sedikit masyarakat yang belum mengetahui cara mengelola sampah anorganik, khususnya plastik. Dikatakannya, kehadiran bank sampah sampah unit dapat menjadi solusi untuk mewadahi sampah yang sudah terpilah dari masyarakat. ’’Semua jenis sampah anorganik, baik jenis plastik, kresek, maupun sepatu bekas kami tampung melalui bank sampah induk,’’ paparnya.
Melalui bank sampah, setidaknya timbulan sampah anorganik tiap rumah tangga mampu ditekan hingga 30-38 persen. Bahkan, masyarakat juga terus diedukasi untuk mengolah sampah organik menjadi kompos maupun olahan yang bermanfaat lainnya. ’’Karena produksi sampah organik justru lebih banyak sekitar 62 persen, sehingga kami ajarkan masyarakat untuk bisa action mengolahnya,’’ tandas Direktur Wahana Edukasi Harapan Alam Semesta (Wehasta), Kecamatan Trawas, ini.
Tak hanya mengurangi volume sampah, tapi bank sampah juga memberi nilai ekonomis bagi masyarakat. Saat ini, terdapat 100 lebih bank sampah unit yang aktif dan tersebar di berbagai penjuru desa se-Kabupaten Mojokerto. Eksistensinya kini terus diperluas hingga masuk perusahaan, lembaga pendidikan, dan pondok pesantren. ’’Dari pemilahan sampah di rumah tangga, harapannya terbentuk gerakan komunal di satu RT, satu RW, bahkan satu dusun dan desa untuk membentuk kelompok bank sampah,’’ harapnya. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah