BP Kebudayaan Jatim Lakukan Pemetaan LiDAR
TROWULAN - Situs Beloh menjadi salah temuan penting dalam lanskap kepurbakalaan Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Trowulan. Struktur yang diduga sisa permukiman masyarakat Jawa Kuno ini bertahap melengkapi teka-teki keberadan pusat kerajaan Majapahit di wilayah Kabupaten Mojokerto tersebut.
Tim Kerja Penyelamatan, Pengamanan, dan Advokasi (PPA) Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, Ning Suryati, menuturkan pendataan temuan purbakala di area persawahan Desa Beloh, Kecamatan Trowulan, turut dilakukan dengan metode light detection and raging (LiDAR). Pengumpulan data dilakukan semaksimal mungkin meski survei penyelamatan berlangsung dalam waktu terbatas.
"Selain ekskavasi dan pendataan titik koordinat, kita memakai drone dan geodetik untuk LiDAR di KCBN Trowulan," jelasnya, kemarin (27/4). Untuk diketahui, teknologi LiDAR beroperasi dengan memancarkan sinar laser dari udara untuk menangkap detail bentuk dan kontur permukaan tanah dengan tingkat presisi yang tinggi.
Metode pendataan ini dirasa perlu, apalagi jejak permukiman kuno ini berada tak jauh dari Situs Waduk Domas di Desa Domas, Kecamatan Trowulan. Suryati menyebut, penanganan segera diperlukan lantaran dikhawatirkan temuan purbakala tersebut berpotensi rusak atau bahkan hilang.
"Untungnya kita bisa gerak cepat, kalau tidak ini bisa hilang dan kita bisa kehilangan data. Karena aktivitas masyarakat di lokasi ini untuk membuat batu bata atau linggan," terangnya. Menurutnya, Situs Beloh merupakan temuan siginifikan di KCBN Trowulan. Utamanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan penelitian kepurbakalaan.
"Ini berpotensi untuk bahan kajian, bahwa di wilayah Beloh dahulunya ada permukiman (masyarakat Jawa Kuno, red)," tutur Suryati. Hal ini sekaligus mendukung asumsi Trowulan sebagai pusat Kerajaan Majapahit. Situs Beloh melengkapi sejumlah temuan besar lainnya yang seolah membentuk tata kota era Majapahit.
Mulai dari Situs Sumur Upas, Situs Permukiman Segaran, Situs Kolam Segaran, Candi Brahu, Bajang Ratu, Situs Klinterejo hingga Situs Kumitir yang disebut sebagai Istana Bhre Wengker. Sebelumnya, Situs Beloh kali pertama ditemukan seorang perajin batu bata bernama Sutikno di area linggan pada pertengahan Maret lalu.
Struktur bata kuno di lahan seluas 12 x 21 meter itu kemudian dilaporkan ke polisi khusus (polsus) cagar budaya pada 8 April. Penanganan awal dilakukan dengan survei penyelamatan kurun 20-23 April dengan melakukan test pit pada 7 kotak gali.
Susunan bata kuno ditemukan sekitar 5-30 cm di bawah permukaan tanah. Tim arkeolog juga mendapati lumpang, sekeping uang kepeng, jambangan, fragmen keramik dan gerabah, hingga mata pancing atau kail kuno dari perunggu. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah