JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Patung Buddha Tidur di Mojokerto bukan sekadar bangunan monumental, melainkan simbol spiritual sekaligus ikon wisata yang mengangkat nama Kabupaten Mojokerto ke tingkat nasional bahkan internasional.
Patung ini berdiri megah di kompleks Maha Vihara Majapahit, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, sebuah kawasan yang dahulu menjadi pusat kejayaan Kerajaan Majapahit. Kehadirannya menambah kekayaan sejarah dan budaya Mojokerto, sekaligus menjadi daya tarik wisata religi yang tak pernah sepi pengunjung.
Baca Juga: Sensus Ekonomi 2026: Mengukur Kekuatan Tersembunyi Perempuan Indonesia
Patung ini dibangun pada tahun 1993 atas prakarsa Bhikkhu Viriyanadi Maha Tera. Dengan panjang 22 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 4,5 meter, patung ini tercatat sebagai salah satu patung Buddha tidur terbesar di Asia Tenggara.
Ukurannya yang monumental membuatnya sering dibandingkan dengan patung serupa di Thailand dan Nepal, menjadikan Mojokerto sebagai destinasi penting bagi wisatawan yang ingin melihat keagungan seni dan spiritualitas Buddha.
Secara filosofis, patung ini menggambarkan momen Parinirvana, yaitu saat Sang Buddha Gautama mencapai pencerahan terakhir sebelum wafat. Posisi tidur dengan wajah tenang menghadap selatan melambangkan kedamaian, keikhlasan, dan kebijaksanaan. Warna emas yang melapisi seluruh tubuh patung menambah aura sakral sekaligus menegaskan makna kemuliaan dalam ajaran Buddha.
Baca Juga: Sunrise Mall Mojokerto, Boneka Discount Up To 70 Persen
Selain patung utama, kompleks Maha Vihara Majapahit juga menyimpan berbagai relief yang menceritakan kisah kehidupan Buddha. Relief-relief ini tidak hanya memperindah bangunan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi pengunjung yang ingin memahami ajaran moral dan spiritual dalam tradisi Buddhis. Dengan demikian, kawasan ini berfungsi ganda sebagai tempat ibadah sekaligus pusat pembelajaran budaya.
Seiring berjalannya waktu, Patung Buddha Tidur Mojokerto berkembang menjadi destinasi wisata populer. Awalnya, kawasan ini hanya digunakan untuk kegiatan keagamaan umat Buddha. Namun sejak dibuka untuk umum, jumlah wisatawan terus meningkat, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Banyak pengunjung datang untuk berfoto, berziarah, atau sekadar menikmati suasana tenang yang ditawarkan kompleks vihara.
Daya tarik lain dari kawasan ini adalah lokasinya yang berada di Trowulan, situs bersejarah peninggalan Majapahit. Hal ini membuat kunjungan ke Patung Buddha Tidur terasa lengkap, karena wisatawan dapat sekaligus menjelajahi candi-candi dan situs arkeologi lain di sekitar Trowulan. Dengan demikian, wisata religi dan sejarah berpadu harmonis di satu kawasan.
Harga tiket masuk ke Patung Buddha Tidur sangat terjangkau, sehingga dapat dinikmati oleh semua kalangan. Pengunjung dewasa hanya dikenakan biaya Rp3.000, sementara anak-anak Rp2.000. Jam operasionalnya berlangsung setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00, sehingga wisatawan memiliki waktu cukup panjang untuk menikmati suasana dan keindahan patung.
Baca Juga: Kartini Masa Gen Z, Emansipasi yang Berubah Wajah
Patung Buddha Tidur tepatnya berada di Maha Vihara Majapahit, Gg. I, Siti Inggil, Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur 61362. Lokasi ini mudah dijangkau baik dari pusat Kota Mojokerto maupun dari Surabaya, sehingga aksesibilitasnya menjadi salah satu keunggulan bagi wisatawan.
Bagi masyarakat Mojokerto, patung ini bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga simbol kebanggaan daerah. Kehadirannya memperkuat identitas Mojokerto sebagai pusat sejarah dan budaya, sekaligus menunjukkan bahwa nilai spiritual dapat menjadi daya tarik wisata yang mendunia.
Dengan segala keunikan dan makna yang terkandung, Patung Buddha Tidur layak disebut sebagai ikon Mojokerto. Ia bukan hanya patung raksasa berlapis emas, melainkan representasi dari perjalanan spiritual, sejarah kejayaan Majapahit, dan kebanggaan masyarakat Jawa Timur. FERDI
Editor : Imron Arlado