’’Yang sudah kita terapkan perlahan, penggunaan AC, baru dihidupkan mulai pukul 09.00 pagi. Yang jelas, untuk penghematan energi ini, kita terapkan secara perlahan, karena untuk pembudayaan itu harus dimulai dari pembiasaan dulu.’’
Silfi Ariani
Kepala SMAN 3 Mojokerto
AC Sekolah Baru Dinyalakan Pukul 09.00
MOJOKERTO RAYA – Lembaga pendidikan tingkat SMA/SMK maupun SLB di Kabupaten dan Kota Mojokerto menekankan agar para siswa berjalan kaki atau bersepeda saat berangkat ke sekolah. Khususnya bagi mereka yang tempat tinggalnya cukup dekat dengan sekolah. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk menghemat energi.
Di SMAN 3 Mojokerto, misalnya. Penghematan energi tersebut mencakup beberapa aturan. Salah satunya terkait penggunaan transportasi. Semua siswa diminta untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi ke sekolah. Hal ini sekaligus mendukung program hemat energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM).
’’Untuk siswa yang jarak rumahnya dekat dengan sekolah, kita imbau agar berjalan kaki atau bersepeda. Untuk menghemat penggunaan energi sesuai arahan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jatim,’’ ujar Kepala SMAN 3 Mojokerto Silfi Ariani, kemarin (1/4).
Terutama, lanjut dia, setiap hari Jumat. Di mana siswa diwajibkan untuk mulai naik sepeda ke sekolah. Aturan ini, terang Silfi, menyesuaikan kebijakan yang diberlakukan pemerintah daerah (pemda) setempat. ’’Sementara waktu kita pendataan dulu, untuk siswa yang rumahnya jauh dan memungkinkan tidak bisa ditempuh dengan sepeda, dan sebaliknya,’’ terang dia.
Selain penggunaan transportasi, pihaknya juga mulai menerapkan upaya penghematan listrik. Yaitu, dengan mematikan perangkat elektronik yang tidak digunakan. Seperti mematikan lampu, pendingin ruangan (AC), dan peralatan listrik lainnya, yang dinilai dapat memberikan dampak besar terhadap penghematan energi.
’’Yang sudah kita terapkan perlahan, penggunaan AC, baru dihidupkan mulai pukul 09.00 pagi. Yang jelas, untuk penghematan energi ini, kita terapkan secara perlahan, karena untuk pembudayaan itu harus dimulai dari pembiasaan dulu,’’ tandasnya.
Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Provinsi Jawa Timur Wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto Pinky Hidayati menyatakan, penghematan energi di lembaga satuan pendidikan memang mulai diterapkan sejak hari pertama masuk sekolah, Senin (30/3) lalu.
Namun, terkait kebijakan ini, pihaknya meminta agar sekolah secara berkala mengadakan evaluasi untuk penerapan di lapangan. ’’Dari penerapan selama minggu pertama, nanti sekolah harus ada catatan apakah terjadi pengurangan atau justru pemborosan energi selama kebijakan ini diterapkan. Itu untuk mengevaluasi pelaksanaan yang mulai berjalan,’’ terangnya.
Adapun kebijakan tersebut tidak hanya berlaku bagi para siswa, tetapi juga berlaku untuk guru dan tenaga kependidikan. Dia menegaskan, penghematan energi ini harus menjadi komitmen bersama. Sebab, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun sekolah semata, melainkan semua pihak.’’Ini perlu kesadaran bersama. Semuanya harus menjaga komitmen bersama, baik masyarakat, sekolah, maupun aparatur pemerintah,’’ tandasnya. (oce/ris)
Editor : Fendy Hermansyah