Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Warga Tagih Hasil Studi Banding Wali Kota Mojokerto ke Jepang

Yulianto Adi Nugroho • Rabu, 1 April 2026 | 06:28 WIB
KUMUH: Tumpukan sampah rumah tangga di trotoar Jalan Pekayon, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, Senin (30/3). (Sofan Radar Mojokerto)
KUMUH: Tumpukan sampah rumah tangga di trotoar Jalan Pekayon, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, Senin (30/3). (Sofan Radar Mojokerto)

 

’’Kami tunggu oleh-olehnya, yaitu penanganan sampah. Jadi, kalau jauh-jauh ke Jepang tapi tidak diterapkan di kota kita ya percuma, hanya untuk wacana saja.’’

Aan

Warga Lingkungan Randegan RT 4, RW 2, Kelurahan Kedundung

 

 

Tak Kunjung Diangkut, Sampah Menumpuk di Trotoar 

KOTA - Pengelolaan sampah di Kota Mojokerto dianggap belum optimal. Masih banyak sampah yang menumpuk karena terlambat diangkut hingga dampak pencemaran di TPA Randegan. 

Masyarakat kini menagih hasil studi banding yang dilakukan wali kota ke Jepang untuk belajar mengelola sampah. Pada 26-30 Januari lalu, Wali Kota Ika Puspitasari jauh-jauh terbang ke Negeri Sakura terkait program pengelolaan sampah. 

Masalahnya, dua bulan sejak kunjungan tersebut, masyarakat belum merasakan perubahan signifikan terkait pengelolaan sampah. Seperti Senin (30/3), sampah rumah tangga masyarakat masih banyak yang menumpuk di trotoar dan depan rumah lantaran tak kunjung diangkut petugas. Masyarakat di sekitar TPA Randegan, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, juga masih mengeluhkan dampak gunungan sampah yang kian meninggi. 

Aan, warga Lingkungan Randegan RT 4, RW 2, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari mengatakan, kegiatan studi banding ke Jepang percuma apabila hasilnya tak diterapkan. ’’Kami tunggu oleh-olehnya, yaitu penanganan sampah. Jadi, kalau jauh-jauh ke Jepang tapi tidak diterapkan di kota kita ya percuma, hanya untuk wacana saja,’’ tuturnya.

Menurut dia, daripada belajar ke luar negeri, lebih baik pemkot menambah anggaran untuk pengolahan sampah. Baik dengan menambah infrastruktur pendukung maupun sarana prasarana pengangkut sampah, seperti truk sampah yang sudah keropos. ’’Kita sebagai orang awam, itu kesannya menghambur-hamburkan uang, lebih baik uang untuk pergi ke sana-sini itu dimasukkan anggaran untuk pengelolaan sampah,’’ tandasnya. 

Sebelumnya, Ning Ita, sapaan karib Ika Puspitasari, mengaku mendapat banyak ilmu yang bisa diterapkan guna mengatasi persoalan sampah. Antara lain dengan mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui konsep pemilahan sejak dari tingkat rumah hingga sistem kemitraan untuk menekan timbunan sampah.

’’Tidak hanya dari segi teknis, tetapi juga bagaimana membangun kolaborasi yang kuat antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat,’’ kata Ning Ita dikutip laman resmi pemkot. (adi/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#kota darurat sampah #sampah terbengkalai di trotoar #sampah kota mojokerto #polemik sampah kota mojokerto #Pemkot Mojokerto