Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Tanggul Sungai Brantas Kota Mojokerto Jadi Tempat Sampah Liar

Yulianto Adi Nugroho • Kamis, 12 Februari 2026 | 07:35 WIB

 

MENUMPUK: Sampah liar sisa rumah tangga hingga kasur bekas dibuang di tanggul Sungai Brantas, Jalan Hayam Wuruk, Kota Mojokerto, kemarin (11/2).
MENUMPUK: Sampah liar sisa rumah tangga hingga kasur bekas dibuang di tanggul Sungai Brantas, Jalan Hayam Wuruk, Kota Mojokerto, kemarin (11/2).
 

KOTA - Tanggul Sungai Brantas di Jalan Hayam Wuruk, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, jadi tempat pembuangan sampah liar. Mirisnya, sampah berupa plastik hingga kasur bekas yang dibuang secara sembarangan itu berada di antara Rumah Dinas Wali Kota dan TPS Hayam Wuruk. 

Sampah yang menumpuk di bantaran sungai jumlahnya cukup banyak. Terdapat beberapa karung berisi puing bangunan, dahan kayu, dan plastik. Parahnya lagi, ada kasur bekas yang ikut dibuang di lokasi. ”Sudah lama seperti ini, menumpuk banyak sekarang,” kata Yusron, salah seorang warga, kemarin (11/2).

Tempat pembuangan sampah liar ini hanya berjarak sekitar 110 meter di sebelah timur TPS Hayam Wuruk yang berdiri di simpang tiga PMI Jembatan Padangan. Selain itu, tumpukan sampah yang membuat kumuh dan merusak pemandangan ini hanya 300 meter di baratnya Rumah Dinas Wali Kota Mojokerto atau gedung Rumah Rakyat.

Tak hanya itu, sejumlah titik sampah liar juga muncul di sepanjang kawasan Jogging Track (JT) Sungai Brantas. Antara lain di sekitar panggung JT dan warung-warung sekitarnya. Mayoritas sampah berupa plastik makanan yang kemungkinan dibuang sembarangan oleh pengunjung.

Kabid Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mojokerto Arif Eko Yulianto mengatakan, tumpukan sampah liar di area yang dibuangi kasur bekas bakal segera dibersihkan. ”Besok (hari ini, Red) biar dibersihkan,” ujarnya, kemarin (11/2).

Menurut Arif, sepanjang kemarin tim DLH juga telah melakukan pembersihan terhadap sampah-sampah liar yang muncul di sepanjang tanggul Sungai Brantas, Jalan Hayam Wuruk. Titik pembersihkan itu antara lain di seberang Rumah Dinas Wali Kota yang belakangan berceceran sampah plastik makanan. ”Hari ini (kemarin, Red) sebagian sudah di TL (tindak lanjuti) oleh teman-teman DLH,” tuturnya.

Sebelumnya, sejumlah titik sampah liar muncul di beberapa sudut Kota Mojokerto. Salah satunya tumpukan sampah liar di Jalan Ken Dedes, Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari. Keberadaan sampah yang bertebaran sepanjang jalan itu sampai membuat wali kota mengerahkan para pegawai, aparat keamanan, dan warga menggelar kerja bakti pada Jumat (6/2).

Wali Kota Ika Puspitasari mengatakan, keberadaan sampah liar akibat kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan masih rendah. ”Ini lebih kepada perilaku masyarakat yang kurang taat dan tertib dalam menjaga kebersihan wilayahnya,” tuturnya di sela kerja bakti.

BIKIN KOTOR: Sampah plastik makanan di area panggung Jogging Track (JT) Sungai Brantas, Jalan Hayam Wuruk, Kota Mojokerto, kemarin (11/2).
BIKIN KOTOR: Sampah plastik makanan di area panggung Jogging Track (JT) Sungai Brantas, Jalan Hayam Wuruk, Kota Mojokerto, kemarin (11/2).

Menurutnya, fasilitas pembuangan sampah di Kota Mojokerto sudah lebih dari cukup. Infrastruktur itu terdiri dari 30 depo sampah, 10 TPS, 3 tempat pengelolaan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R), dan satu tempat pemrosesan akhir (TPA), yakni TPA Randegan. ”Jumlah sebanyak itu sebenarnya sangat memadai untuk luasan Kota Mojokerto yang hanya 20 kilometer persegi,” imbuh dia.

Fenomena tempat sampah liar di Jalan Ken Dedes ironis lantaran di ruas jalan tersebut baru dibangun TPS3R Wates pada tahun lalu. Proyek senilai Rp 504 juta itu sedianya akan menggantikan fungsi TPS Wates di Jalan Penanggungan yang ditutup sejak Desember 2025. Hanya saja, TPS3R yang baru belum dibuka karena rencananya akan dioperasikan setelah Lebaran.

Di sisi lain, masalah sampah juga meliputi TPA Randegan, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, lantaran memicu polusi udara dan pencemaran air ke permukiman sekitarnya. Tak hanya itu, gunungan sampah juga mepet dengan tembok permukiman warga Perumahan The Suam Residence di sisi barat. 

Belakangan, muncul pula persoalan tanah warga diduga diserobot TPA. Area seluas hampir satu hektare yang selama ini ditumpuki sampah diklaim milik sejumlah warga. Mereka pun berharap mendapat ganti rugi lantaran kondisi itu sudah berlangsung selama kurang lebih 10 tahun. (adi/ris)

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#tps liar kota mojokerto #Pemkot Mojokerto #tempat sampah liar #tanggul brantas