- Dandim Sebut Disuplai Pihak Ketiga
- Dimasak Rabu, tapi Baru Dibagikan Jumat
KABUPATEN - Faktor penyebab keracunan massal pada progam Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mojokerto akhirnya terkuak. Pemicu gejala gangguan kesehatan yang dialami ratusan korban terdampak ini diduga kuat bersumber dari telur yang menjadi bagian dari menu soto ayam yang didistribusikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada Jumat (9/1) lalu.
Kesimpulan sementara ini terungkap usai rapat gabungan yang digelar di ruang Satya Bina Karya (SBK) Pemkab Mojokerto, Kamis (15/1) malam. Pertemuan tertutup yang diikuti lintas unsur tersebut di antaranya membahas terkait hasil uji sampel MBG yang telah rampung dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Mojokerto.
Hadir dalam forum ini meliputi Kodim 0815 Mojokerto, Polres Mojokerto, Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Labkesda Kabupaten Mojokerto, perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN), hingga gabungan ahli gizi.
Dandim 0815 Mojokerto Letkol Inf Abi Swanjono mengungkapkan, hasil uji laboratorium terhadap sampel MBG telah didiskusikan bersama seluruh perwakilan dalam rapat gabungan. Meski pihaknya belum dapat membeber secara detail terkait dengan hasil uji, namun dugaan keracunan disinyalir berasal dari bagian telur.
’’Secara garis besar dari hasil diskusi kita mengarah pada dugaan sementara karena adanya pemberian telur matang,’’ ungkapnya usai mengikuti pertemuan di Smart Room Satya Bina Karya (SBK) Kantor Bupati Mojokerto, Kamis (15/1).
Abi menjelaskan, dugaan tersebut berdasarkan dari keterangan pengelola SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 selaku penyuplai MBG. Pasalnya, dapur SPPG yang berada di Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, ini tidak memasak sendiri telur, melainkan disuplai dari penyedia lain atau pihak ketiga dalam kondisi sudah matang.
Dandim menegaskan, telur yang dijadikan sebagai bagian dari paket menu soto ayam MBG ini dimasak pada H-2 dari jadwal pembagian. ’’Setelah kita telusuri, telur tersebut dari pihak ketiga itu dimasak pada hari Rabu (7/1),’’ bebernya.
Lalu, lanjut Abi, telur dalam kondisi matang dikirimkan ke SPPG pada Kamis (8/1) sore. Selanjutnya, telur ayam ini diproses menjadi satu paket menu soto ayam yang didistribusikan SPPG ke 22 lembaga pendidikan dan pondok pesantren (ponpes) pada Jumat (9/1).
Hingga akhirnya, paket menu MBG yang menyasar 2.679 penerima manfaat di wilayah Kutorejo dan Mojosari ini mengakibatkan keracunan massal. ’’Itulah dugaan sementara kita, karena ada rentang waktu antara Rabu (7/1) malam sampai hari Kamis (8/1),’’ tandasnya.
Terlebih, dari hasil investigasi, ada sebagian penerima manfaat yang mengonsumsi MBG pada Jumat (9/1) siang. Di antaranya yang dilakukan para santri di Ponpes Mahad An Nur, Desa Singowangi dan di Ponpes Al Hidayah, Desa Wonodadi. Mereka baru mengonsumsi paket menu soto ayam setelah salat Jumat, sehingga menimbulkan korban terdampak tertinggi.
Sebagai langkah tegas, Abi menyatakan SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 telah direkomendasikan penutupan sementara sejak munculnya keracunan massal. Di samping itu, 76 unit SPPG lainnya di wilayah Kabupaten Mojokerto juga diminta untuk memperketat pengawasan sebagai bentuk evaluasi agar kejadian serupa tak terulang lagi.
’’Kami sepakat dengan stakeholder yang lain akan meningkatkan pengawasan lagi, sehingga ke depan tidak terjadi lagi yang seperti ini (keracunan, Red),’’ tandasnya.
Sebelumnya, Pemkab Mojokerto mencatat total korban terdampak keracunan MBG sebanyak 411 orang. Selain dialami siswa dan santri, sejumlah wali murid maupun anggota keluarga juga sempat menjalani perawatan medis setelah ikut mengonsumsi menu MBG berupa soto ayam yang dibawa pulang oleh peserta didik. (ram/fen/ris)
Editor : Fendy Hermansyah