Tidak Ada Konsultan Pengawas dan Dinas Pangan
KABUPATEN - Lembaga pemantau pembangunan dan Kinerja pemerintah (LP2KP) Mojokerto turut menyoroti proyek pembangunan penggilingan gabah milik Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Mojokerto senilai Rp 529 juta. Selain lemahnya pengawasan dinas dan konsultan dalam pengerjaan, pengerjaan konstruksi juga terkesan asal-asalan.
Pembina LP2KP Mojokerto Rif’an Hanum, mengatakan, pengerjaan paket proyek yang berada di Desa Kebuntunggul, Kecamatan Gondang membuatnya prihatin. Itu setelah proyek senilai Rp 529 juta oleh PT. Rama Karya Mandiri diduga kuat tanpa pengawasan ketat dari dinas terkait. Termasuk konsultan pengawas yang dibayar negeara. ’’Melihat pengerjaannya yang amburadul, patut diduga pengawasan tidak dilakukan secara benar,’’ ungkapnya.
Sesuai data yang dikumpulkan di lokasi, pengerjaan pembangunan yang berada di pinggir jalan tersebut sempat terhenti hingga tiga kali. Selain karena tidak adanya modal dari rekanan, bergantiannya pekerja di lapangan juga membuat progress pengerjaan amburadul. Selain jauh dari target, pengerjaan konstruksi bangunannya juga nampak asas-asalan. ’’Melihat tatanan konstruksi batanya saja, seperti tukang masih magang dan asal-asalan. Artinya loss dari pengawasan kualitasnya,’’ tegasnya.
Lebih lagi, dari penelusuran LP2KP Mojokerto, termin satu yang sudah dicairkan oleh dinas, faktanya tak sampai dibayarkan kepada rekanan yang mengerjakan. Piutang pembayaran material dan tukang terjadi di mana-mana hingga akhirnya membuat pengerjaan tak bisa lancar. ’’Harusnya ini jadi perhatian dinas jangan sampai lempar handuk. Jadi, sangat mencurigakan dan patut diduga keras ada permainan ’’mata’’ antara PA, KPA, PPK, PPTK,’’ paparnya.
Praktisnya, kemarin rekanan pekerja Taufik Hidayat terpaksa harus mengambil molen yang ada di lokasi proyek. Peralatan yang sedianya untuk pengaduk semen itu diangkut menggunakan pikap akibat tidak ada kejelasan PT Rama untuk membayar piutannya kepadanya. ’’Sekarang molennya dulu yang kita ambil. Kalau tetap tidak ada pembayaran, besi yang sudah terpasang akan kita ambil juga karena itu statusnya material kami,’’ ungkap Taufik, terpisah.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pangan dan Perikanan Mokhamad Riduwan dan Kabid Ketersediaan dan Distribusi Pangan Nur Aisah kompak bungkam. Keduanya tidak menjawab konfirmasi atas lemahnya pengawasan pada paket proyek tersebut. Pesan yang dikirimkan Jawa Pos Radar Mojokerto melalui WhatsApp hanya dibaca saja. Begitu juga dengan manejemen PT. Rama Karya Mandiri cabang Surabaya Rendi, selaku pemenang tender juga tak menjawab atas konfirmasi yang dikirimkan melalui layanan pesan.
Sebelumnya, rendahnya progres pengerjaan proyek penggilingan gabah akibat banyak faktor mempengaruhi. Salah satunya, bahan material yang didatangkan kerap telat. Tak sekadar itu, kerap pergantian pemborong juga disebut-sebut menjadi penghambat pengerjaan proyek tak kunjung tuntas. Padahal, sesuai tekan kontrak batas akhir teken kontrak 17 November lalu. Meski pada akhirnya ada perpanjangan hingga 1 Desember. ’’Sering gonta-ganti pekerja, makanya tidak selesai-selesai. Ini kami pengganti yang sudah ketiga kalinya, jadi saya ini hanya melanjutkan,’’ kata salah satu pekerja di lokasi. (ori/fen)
Editor : Hendra Junaedi