Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Lima Desa di Kabupaten Tergenang Banjir Luapan

Martda Vadetya • Jumat, 21 November 2025 | 16:00 WIB
TERGENANG: Rumah warga Desa Kebondalem, Kecamatan Mojosari, tergenang banjir luapan, Rabu (19/11) malam.
TERGENANG: Rumah warga Desa Kebondalem, Kecamatan Mojosari, tergenang banjir luapan, Rabu (19/11) malam.

KABUPATEN - Hujan lebat yang melanda Kabupaten Mojokerto sejak Rabu (19/11) sore mengakibatkan banjir luapan di lima desa. Untungnya, banjir tidak tergolong parah dan surut dalam hitungan jam pasca kejadian.

Lima desa di empat kecamatan tersebut yakni, Desa Kebondalem, Kecamatan Mojosari; Desa Balongmasin, Kecamatan Pungging. Kemudian Desa Karangdiyeng dan Singowangi, Kecamatan Kutorejo, serta Desa Gayaman, Kecamatan Mojoanyar. ’’Masing-masing desa yang tergenang hanya di satu dusun,’’ ujar Kalaksa BPBD Kabupaten Mojokerto Rinaldi Rizal Sabirin, kemarin.

Ia menjelaskan, banjir luapan di aliran anak Sungai Sadar ini tergolong tidak parah. Rata-rata banjir menggenangi area jalan sementara banjir yang masuk ke rumah warga setinggi 5 cm. ’’Rata-rata sebelum pukul 24.00 sudah surut total. Untuk di Desa Gayaman surut sekitar pukul 01.00. Insya Allah banjir ini tidak parah,’’ terangnya.

Selain faktor cuaca ekstrem, lanjut Rinaldi, ada beberapa aspek pemicu banjir luapan di lima desa tersebut. Yakni, kondisi tanggul kritis dan sumbatan sampah yang terseret derasnya banjir. ’’Kalau kondisi tanggulnya baik, mungkin tidak sampai meluber. Karena kritis, jadi banjirnya ada yang masuk ke permukiman,’’ papar Rinaldi.

Menurutnya, Desa Gayaman, Kecamatan Mojoanyar, sejauh ini jadi titik langganan banjir disebabkan karena adanya penyempitan saluran air. Selain itu, normalisasi juga belum bisa dilakukan karena terkendala banyaknya jembatan akses ke masing-masing rumah warga di sekitar lokasi. ’’Secara keseluruhan Kamis (20/11) pagi sudah surut total,’’ imbuhnya.

Sebelumnya, Pemkab Mojokerto melalui DPUPR mendorong Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas untuk segera melakukan perbaikan tanggul sungai di 18 kecamatan. Hasil inventarisir pemkab menunjukkan ada sebanyak 48 titik tanggul sungai kondisinya rawan jebol alias kritis.

Puluhan tanggul kritis ini tersebar di aliran Sungai Brantas di penjuru kabupaten. Di antaranya, Tanggul Sungai Sumber Ngrayung di Desa Salen, Kecamatan Bangsal dan Tanggul Afvour Sumberwaru di Desa Kembangsri, Kecamatan Ngoro. Meski kedua titik tanggul yang sempat jembol ini telah mendapat penanggulan darurat oleh pemda, dinilai masih perlu dilakukan penanggulan permanen.

Tak lain, untuk mengantisipasi kembali jebolnya tanggul sungai yang bisa berdampak pada masyarakat sekitar. ’’Data ini hasil mitigasi rutin yang kami laksanakan. Nanti BBWS Brantas yang akan menindaklanjuti,’’ ujar Kabid Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Kabupaten Mojokerto Rois Arif Budiman.

Ia menyebut, karena terkategori kritis, perlu adanya penanganan segera untuk mengantisipasi terjadinya bencana banjir. Disamping tanggul rawan jebol, lanjut Rois, pihaknya turut mencatat sejumlah persoalan lain yang berpotensi memicu bencana banjir. Salah satunya yakni perbaikan pintu air Afvour Jombok di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko. (vad/fen)

 

 

Editor : Hendra Junaedi
#kabupaten mojokerto #hujan lebat #bpbd kabupaten mojokerto #desa terendam banjir #cuaca ekstrem