KABUPATEN – Normalisasi saluran air dan sungai sebagai upaya meminimalisir banjir dampak dari curah hujan tinggi terus diupayakan Pemkab Mojokerto. Sejak Januari hingga November tahun ini, total 24 kilometer sungai telah dikembalikan bentuk dan fungsinya dalam menampung aliran air. Jumlah tersebut tersebar di 34 titik sungai/desa yang ada di 18 kecamatan. Angka tersebut masih akan terus bertambah seiring kebutuhan pengerukan hingga akhir tahun nanti.
Kabid Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Mojokerto Rois Arif Budiman mengatakan, pengerukan sedimentasi sungai tidak hanya berdasarkan usulan di awal tahun. Tapi, juga atas pertimbangan kondisi sungai dan permintaan pemerintah desa. Seperti saluran air Desa Bandung dan Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, yang mengalami pendangkalan. Sehingga perlu dikeruk agar tidak membanjiri lahan pertanian dan permukiman warga.
’’Posisi sekarang normalisasi kurang lebih sudah berjalan 24 kilometer di 34 titik sungai. Masih bisa bertambah dan akan terus dimaksimalkan sesuai dengan kebutuhan,’’ ungkapnya. Rois menegaskan, normalisasi menjadi prioritas utama di tengah antisipasi bencana hidrometeorologi yang sedang berjalan. Pengerukan sedimen akan terus dimaksimalkan sesuai lebar sungai. Yakni, 1 sampai 3 meter dan kedalaman 1 sampai 2 meter untuk saluran air. ’’Sedangkan untuk sungai besar, bisa dioptimalkan dengan lebar 3-6 meter dengan kedalaman 3-4 meter,’’ tambahnya.
Selain sungai, Rois juga mengupayakan pengerukan untuk memaksimalkan pasokan air pada lahan pertanian. Salah satunya normalisasi tiga waduk di utara sungai, di Desa Banyulegi, Temuireng, dan Dawarblandong. ’’Untuk waduk sudah kami lakukan saat mengantisipasi minimnya pasokan air untuk pertanian warga pertengahan tahun kemarin,’’ pungkasnya. (far/ris)
Editor : Hendra Junaedi