KABUPATEN - Dua desa di wilayah utara Sungai Brantas Kabupaten Mojokerto rawan mengalami kekeringan saat puncak musim kemarau. Tahun lalu, krisis air melanda ratusan kepala keluarga (KK) di kedua desa sejak September.
Dua desa rawan kekeringan itu adalah Desa Bendung, Kecamatan Jetis, dan Desa Simongagrok, Kecamatan Dawarblandong. Kepada Desa Bendung Syafa’at mengatakan, sejauh ini kebutuhan air warganya masih tercukupi. Sumber air yang diandalkan masyarakat tetap mengalir meski telah memasuki musim kemarau. ’’Sementara aman karena masih terkadang hujan,” ujarnya, kemarin (11/8).
Pada Oktober 2024 lalu, kekeringan melanda sekitar 40 warga di Dusun Bantengan, Desa Bendung. Paceklik air terjadi seiring mengeringnya debit air dari sumur bor pada puncak kemarau. Saat itu, penurunan debit juga terjadi di Dusun Kaliusin, namun tak sampai memicu krisis air. ’’Nanti akan kami cek rutin,’’ imbuhnya.
Hal serupa disampaikan Kepada Desa Simongagrok Siswono. Menurutnya, pasokan air dari weslik di Dusun Tempuran yang langganan kekeringan sejauh ini masih mencukupi. ’’Karena jarang-jarang masih hujan, kalau hujan wesliknya lancar,’’ tuturnya, kemarin (11/8).
Sedikitnya 110 KK di dusun yang berbatasan dengan Lamongan tersebut terdampak krisis air pada musim kemarau periode tahun lalu. Kekeringan terjadi sejak September hingga akhirnya BPBD mengirim bantuan 5 ribu liter air per dua hari. Siswono mengatakan, bantuan pembuatan sumur bor di Dusun Jumblangsari dari TNI AD yang diresmikan Februari lalu juga turut meringankan beban warga. ’’Sangat membantu,’’ ucapnya.
Terpisah, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Abdul Khakim menyebut, sejauh ini belum ada laporan kekeringan di wilayah utara Sungai Brantas. Namun, pihaknya memantau dan meminta pihak desa segera melapor jika terjadi dampak musim kemarau.
Sebaliknya, BPBD telah memasok air bersih ke tiga desa di lereng Gunung Penanggungan sejak 29 Juli lalu lantaran mengalami krisis air. Tiga desa langganan kekeringan itu meliputi Desa Kunjorowesi dan Manduro Manggung Gajah di Kecamatan Ngoro serta Desa Duyung, Kecamatan Trawas. Total warga yang terdampak kekeringan mencapai 6.425 jiwa. (adi/fen)
Editor : Hendra Junaedi