Dibangun Tahun 2021, Telan Anggaran hingga Ratusan Juta
KOTA – Ornamen bergaya Majapahitan di sejumah jembatan di Kota Mojokerto dibiarkan tak terawat. Aksesori tambahan berbiaya mahal itu kini banyak yang hilang dan rusak. ”Sudah lama seperti ini, patah, dan copot. Lampu sorotnya juga pada hilang, padahal kalau malam harusnya menyala emas bagus begitu,” tutur Imam, salah satu warga yang tinggal di sekitar jembatan Jalan KH Usman, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, kemarin (22/7).
Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto, ornamen jembatan dulunya dipasang oleh pihak swasta melalui program corporate social responsibility (CSR). Penambahan hiasan bercorak sulur Majapahit itu menjadi bagian dari revitalisasi jembatan. Tujuannya untuk mempercantik wajah kota sebagai destinasi wisata sejarah.
Proyek pemasangan ornamen jembatan tersebut dilakukan setelah terbentuknya Forum Komunikasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Forkom TSP) Kota Mojokerto periode 2021-2025 yang dilantik Wali Kota Ika Puspitasari pada April 2021. Tercatat terdapat 15 jembatan yang menjadi target revitalisasi. Ornamen berwarna emas itu dipasang pada pilar bata merah. Proyek ini juga termasuk pembangunan dinding jembatan Gajah Mada yang belakangan terungkap dikorupsi.
Tragisnya, kini ornamen-ornamen Majapahitan itu dibiarkan tak terawat. Tak hanya di Jalan KH Usman, kerusakan hiasan berbahan fiber terebut juga terpantau di banyak titik lain. Seperti di Jalan Raden Wijaya dan Jalan Tribuana Tungga Dewi. Dari niatnya untuk mempercantik wajah kota, kini justru membuatnya jadi terkesan amburadul.
Pun demikian dengan tembok jembatan Gajah Mada. Hiasan bata merah yang menempel dibiarkan rontok hingga membahayakan pengguna jalan. ”Sudah lebih dua bulan ambrol,” tandas Bagus, seorang pengendara di lokasi. Padahal, biaya revitalisasi per jembatan ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Khusus jembatan Gajah Mada saja, total nilai anggarannya mencapai Rp 607 juta. Proyek pada 2021 itu meliputi pemasangan bata tempelan bergaya Majapahit di kedua sisi. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi