Di Ruas Jalan Tribuana Tungga Dewi dan KH Usman
KOTA - Ornamen jembatan di sejumlah ruas jalan di Kota Mojokerto kondisinya kian memprihatinkan. Kerusakan pada bagian aksesori bercorak sulur Majapahit ini semakin parah, bahkan sudah remuk. Beberapa titik lainnya juga lenyap dari jembatan.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, kerusakan ornamen terjadi di jembatan pada ruas Jalan Tribuana Tungga Dewi, Minggu (15/6). Terdapat hiasan sulur berwarna keemasan yang sudah hancur. Pecahan materialnya juga masih tampak berserakan di atas jembatan. ’’Nggak ngerti sebabnya apa, tahu-tahu sudah pecah begini,’’ ungkap Anto, pejalan kaki yang melintas di jembatan Tribuana Tungga Dewi kemarin.
Warga Lingkungan Sinoman, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan ini tidak mengetahui secara pasti sejak kapan ornamen bergaya Majapahitan tersebut terlepas dari badan jembatan. Namun, diperkirakan kerusakan terjadi sudah beberapa hari yang lalu.
Selain rusak, hiasan jembatan yang melintas di atas aliran Sungai Brangkal ini juga banyak yang lenyap. Dari selusin titik di sisi selatan jembatan, kini hanya tinggal dua ornamen saja yang tersisa. Sedangkan di sisi utara masih tersisa enam buah ornamen dari semula 12 titik ornamen. ’’Kalau hilang kayaknya sudah cukup lama,’’ tambah Ismail, warga Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon.
Tapi, dia menyebut tak mengetahui penyebab raibnya material yang terbuat dari bahan resin tersebut. Ayah dua anak ini menduga hilangnya ornamen disebabkan karena terlepas akibat sudah usang. ’’Mungkin karena sudah banyak yang rusak,’’ sebutnya.
Mirisnya, kondisi hampir serupa juga terjadi di jembatan di ruas Jalan KH Usman, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon. Sejumlah ornamen mengalami retak, berlubang, hingga patah. Selain tak terawat, beberapa titik yang hilang juga masih dibiarkan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPR Perakim) Kota Mojokerto Muraji belum memberikan respons saat dikonfirmasi kemarin. Meski sudah dihubungi melalui sambungan telepon seluler namun belum dijawab.
Dari data yang dihimpun, sentuhan ornamen bercorak Majapahitan pada jembatan ini dikerjakan melalui corporate social responsibility (CSR). Terdapat belasan jembatan yang juga dipasang hiasan serupa sepanjang 2021-2022 lalu. (ram/fen)
Editor : Hendra Junaedi