Konten Keliru, Alami Rusak Sana-sini
KOTA, JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Kalangan pegiat sejarah menilai tugu peringatan Soekarno yang berdiri di sejumlah tempat di Kota Mojokerto perlu direvisi. Itu dikarenakan isi atau konten yang termuat pada tugu itu terdapat kekeliruan.
Di Kota Mojokerto tersebar tujuh tugu peringatan atau monumen Soekarno. Lokasinya berbeda-beda, mulai di SDN Purwotengah, SMPN 2, Jalan Residen Pamuji, Alun-Alun, depan Balai Kota, Simpang Sekarsari, dan Jalan Empunala.
Menurut pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, kondisi kerusakan paling parah di SDN Purwotengah dan SMPN 2 Kota Mojokerto di Jalan Ahmad Yani. Tidak sedikit guratan-guratan terlihat di tugu berwarna emas dengan plakat badan tugu berwarna hitam. Selain itu, sejumlah huruf dalam narasi pada plakat tak sedikit yang protol.
Mochamad Faisol, penelusur sejarah Soekarno menyatakan, kekeliruan pemuatan narasi sejarah bisa membuat kekaburan sejarah itu sendiri. Bahkan, informasi yang salah atau keliru cenderung bisa menyesatkan masyarakat. ’’Tugu peringatan Soekarno itu perlu direvisi karena memuat konten yang keliru,’’ kata dia.
Pria asal Jombang ini menilai, tugu di SDN Purwotengah memuat keterangan tugu berada di sekolah tempat Soekarno kecil pernah belajar, yang dinamai Sekolah Tweede Klassen. Pihaknya mempertanyakan asal usul atau bukti yang menjadi landasan SDN Purwotengah dianggap Sekolah Ongko Loro oleh Pemkot. ’’Padahal dulu, Bung Karno (BK) bersekolah di Sekolah Ongko I atau 1e Eerste Inlandse School (IS) sekolah tempat ayahnya bertugas. Lantas, Sekolah Ongko 1-nya sekarang di mana?’’ tanyanya.
Faisol juga mempertanyakan periode Soekarno yang disebutkan pada tugu mulai 1907 hingga 1909. Penyematan keterangan itu diduganya tidak didukung sumber sejarah yang akurat. ’’Karena BK dulu bersama orang tuanya ke Mojokerto pada 1909. Itu dibuktikan lewat sumber otentik berupa besluit atau SK mutasi Raden Soekeni (ayah dari Soekarno) terbitan 22 Januari 1909. Soekeni ditunjuk sebagai hulponderwijer alias semacam guru bantu,’’ rincinya.
Keberadaan bukti otentik berupa besluit itu menurutnya yang paling tertua dibanding sumber rujukan sejarah Soekarno lainnya. Selain itu, dalam ilmu sejarah atau historiografi, bukti dokumen sezaman memiliki derajat yang paling tinggi sehingga bisa disebut sumber primer atau utama.
’’Sedangkan rujukan dari buku sejarah, otobiografi, dan lainnya itu termasuk sumber sekunder serta tersier. Artinya, kalau tetap menggunakan 1907 sebagai kedatangan Soekarno ke Mojokerto, di mana itu disebutkan di buku Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams pada 1964, maka sumber itu kurang akurat jika dibandingkan dengan besluit terbitan 1909,’’ bebernya.
Selain itu, pihaknya pun melihat kondisi tugu di SDN Purwotengah dan SMPN 2 banyak kekeliruan secara redaksional. Baik penulisan nama sekolah hingga penamaan ayah Bung Karno. Seperti penamaan Sekolah Tweede Klassen tidak dikenal pada zaman itu. Nama resmi sekolah yang pernah diikuti Bung Karno adalah 1e Eerste Inlandse School (IS) alias Sekolah Ongko 1. Penyebutan nama ayah Soekarno yakni Soekemi. Padahal, kata Faisol, sesuai besluit, tertulis Soekeni.
Oleh karena itu, pihaknya menyarankan agar Pemkot Mojokerto melakukan revisi atas keberadaan tugu atau Monumen Soekarno tersebut. Selain itu, juga melibatkan tim ahli sejarah dan cagar budaya agar produk baru yang menuliskan jejak Soekarno tak menyesatkan masyarakat. ’’Saya menilai tugu tersebut perlu direvisi. Tetapi sebelumnya Pemkot wajib melakukan pembahasan ulang atas penulisan sejarah Soekarno,’’ saran Faisol.
Terpisah, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Mojokerto Joko Purwanto mengatakan, bakal melakukan evaluasi dan koordinasi terkait keberadaan tugu Soekarno tersebut. ’’Kami akan koordinasikan dengan yang membuat dahulu,’’ ungkapnya. (fan/fen)
Editor : Hendra Junaedi