KOTA - Pemkot dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Mojokerto mengklaim banyak versi perihal sejarah Soekarno. Meski begitu, instansi pengampu bidang kebudayaan tersebut menerima adanya kritik soal sumber sejarah pada penanda jejak Soekarno yang ditaruh di sejumlah tempat.
Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Mojokerto, Joko Purwanto, mengaku belum tahu kritik sejarah pada penanda jejak Soekarno berupa tugu peringatan dan buku Soekarno Kecil yang dilontarkan sejumlah pemerhati sejarah. Meski begitu, dirinya menyebutkan perihal kesejarahan Soekarno memang terdapat banyak versi. ’’Itu banyak versi, Mas. Jadi memang tidak hanya satu saja,’’ ujarnya ketika dihubungi Jawa Pos Radar Mojokerto, kemarin.
Disinggung terkait buku Soekarno Kecil yang dibagikan saat peresmian Galeri Soekarno Kecil di SDN Purwotengah, Selasa (10/6), pihaknya juga mengaku tak tahu menahu secara detail. ’’Kalau itu, soal isinya dari tim penyusun. Saya tidak tahu,’’ tukas Joko.
Ditanya perihal jumlah tugu peringatan yang memuat informasi tentang sejarah Soekarno di Kota Mojokerto, Joko mengaku lupa. Beberapa di antaranya, kata dia, ditempatkan di Alun-Alun, depan balai kota, dan pasar. ’’Ada kok. Ada beberapa. Sekarang saya masih sibuk, Mas, banyak kegiatan,’’ sambung dia.
Salah satu tim penyusun buku Soekarno Kecil, Ayuhanafiq, ketika dikonfirmasi enggan banyak bicara. Dirinya mengaku tidak mempermasalahkan adanya kritik sejarah dari sejumlah pemerhati sejarah, baik pada isi informasi tugu peringatan maupun buku Soekarno Kecil. ’’Tidak masalah,’’ ucapnya lewat layanan pesan.
Pihaknya juga enggan memberikan tanggapan terkait kritikan yang disampaikan inisiator Titik Nol Soekarno, Binhad Nurrohmat, dan Kuswartono dari Ndalem Pojok Persada Soekarno terkait periodesasi Soekarno di Mojokerto, penamaan sekolah Ongko Loro, hingga pencantuman tanggal lahir Soekarno. ’’Tidak ada tanggapan,’’ balasnya seraya enggan merespons ketika disinggung soal sumber sejarah dari buku Soekarno Kecil.
Terpisah, respons Kepala SDN Purwotengah, Endah Pujiastutik, juga setali tiga uang. Hanya saja, dirinya mengaku tugu peringatan Soekarno yang memuat informasi perihal kiprah Presiden RI pertama di Mojokerto itu adalah bikinan Pemkot Mojokerto. ’’Itu yang membuat soalnya dari Pemkot. Dasarnya dari mana juga, kalau ada kekeliruan ya karena mengambilnya dari banyak sumber,’’ ujarnya singkat.
Sebelumnya, pemerhati sejarah dari pegiat Titik Nol Soekarno dan Ndalem Pojok Persada Soekarno kaget mendapati teks informasi di penanda jejak Soekarno berupa tugu peringatan di SDN Purwotengah diduga tak didukung bukti sejarah. Itu didapati selepas mereka mengikuti undangan peresmian Galeri Soekarno Kecil oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, di sekolahan tersebut, Selasa (10/6).
Binhad Nurrohmat, inisiator Titik Nol Soekarno, menyebutkan kekeliruan informasi pada pencantuman tanggal lahir, nama sekolah, dan periode Soekarno di Mojokerto. ’’Pencantumannya di tugu itu diduga tak didukung sumber sejarah. Seperti pada buku Soekarno Kecil, juga belum dicantumkan sumber sejarahnya,’’ kata dia.
Kuswartono dari Ndalem Pojok Persada Soekarno menambahkan, sesuai cerita tutur dari leluhurnya yang masih kerabat dekat Ir. Soekarno, presiden pertama itu pernah menjejaki sejarah di Mojokerto. Akan tetapi, sebelum ke Mojokerto, The Founding Father bersama orang tua dan kakaknya sempat bermukim di Ploso, Jombang, dan Sidoarjo. ’’Jadi, setelah dari Surabaya, Raden Soekemi bertugas di Ploso, Jombang, lalu ke Sidoarjo. Baru setelah itu ke Mojokerto,’’ tuturnya. (oce/fen)
Editor : Hendra Junaedi