Dari TBM hingga Pasar dan Rest Area Gunung Gedangan
KOTA - Nasib miris sejumlah proyek prestisius di Kota Mojokerto menjadi perhatian kalangan mahasiswa. Kemarin (29/5), mereka menggelar aksi ”wisata proyek mangkrak” ke Taman Bahari Mojopahit (TBM), Rest Area Gunung Gedangan, dan pasar-pasar baru yang kondisinya memprihatinkan.
Kegiatan safari satir itu digelar sejumlah mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mojokerto. Di kompleks bakal wisata TBM, kawasan Jembatan Rejoto, Kecamatan Prajurit Kulon, mereka meninjau replika kapal pujasera yang menghabiskan dana Rp 2,5 miliar.
Bangunan tersebut kini disegel Kejari Kota Mojokerto akibat kasus dugaan korupsi. ”Kami mendorong kejaksaan untuk segera mengungkap siapa dalang dan pemain di balik mangkraknya proyek ini,” kata Formatur Ketua Umum Terpilih HMI Cabang Mojokerto Ambang Muhammad Irawan di lokasi.
Dia dan teman-temannya mengaku miris dan pesimistis dengan nasib TBM sebagai proyek strategis. Menghabiskan sedikitnya anggaran Rp 27,7 miliar, kompleks bakal wisata itu justru memiliki sederet masalah. Selain terindikasi korupsi, kawasan inti TBM juga rawan mengalami banjir serta bangunannya sudah banyak yang rusak.
”Pembangunannya itu bagaimana, uji amdalnya bagaimana, kok bisa banjir, padahal programnya ini dipergunakan secara kontinyu, kalau kena banjir gak mungkin bisa dipakai,” tandasnya. Selain kelanjutan proyek TBM yang tak jelas, Ambang bersama rombongan juga mendatangi Pasar Rakyat Ketidur di Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon. Mereka melihat sepinya pasar yang dibangun pada 2021 dengan anggaran Rp 3 miliar itu.
Dari ratusan los yang tersedia tak satu pun ditempati pedagang. Hasil serupa juga mereka temukan ketika melanjutkan kunjungan ke Rest Area Rest Area Gunung Gedangan (GG), Kecamatan Magersari.
Di kompleks pusat kuliner yang menguras anggaran Rp 7,5 miliar itu banyak kios kosong dan kondisi bangunannya tak terawat. ”Jadi kami ini jalan-jalan sore sekalian melihat-melihat bagaimana mengerjakan proyek-proyek mangkrak ini,” sindirnya. Ambang menambahkan, aksi ini juga bertepatan dengan momen 100 hari kerja Wali Kota Ika Puspitasari.
Terpisah, Plt Kepala Disporapar Kota Mojokerto Muraji tak merespons konfirmasi terkait kelanjutan proyek TBM. Saat ditanya soal kajian risiko bencana, kepala Dinas PUPR Perakim itu terakhir menyatakan akan berkoodinasi dengan stafnya terlebih dahulu.
Sementara itu, Kepala Diskopukmperindag Kota Mojokerto Ani Wijaya sebelumnya menegaskan sejumlah pedagang aktif berjualan di pasar-pasar baru. Sejumlah upaya dilakukan untuk menghidupkan tempat tersebut.
Dari menambah kegiatan keramaian hingga menjadikannya pasar murah dan pasar pengendali inflasi. ”Insya Allah nanti (Pasar Rakyat Ketidur) jadi pasar yang komoditasnya paling murah sehingga pasti dikunjungi warga,” ujarnya, Selasa (13/5).
Adapun di Rest Area GG, Ani menyebut terdapat 8 pedagang mamin, 2 pedagang cindera mata, dan 20 seniman yang aktif berkarya setiap hari. Upaya meramaikan rest area juga dilakukan dengan menjadikannya terminal transit bus Trans Jatim dan titik keberangkatan wisata keliling kota. ”(Di rest area juga) sedang proses kerja sama dengan pelayanan samsat, coming soon,” tuturnya. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi