Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kerap Tersumbat hingga Picu Banjir, Sipon Watudakon di Gedeg Mojokerto Tak Pernah Dilakukan Pengecekan

Yulianto Adi Nugroho • Selasa, 4 Februari 2025 | 14:40 WIB

DIEVALUASI: Proses penyedotan air menggunakan pompa di Sipon Watudakon, Desa Pagerluyung, Kecamatan Gedeg, saat banjir melanda sejumlah desa di Kecamatan Sooko, 13 Desember 2024.
DIEVALUASI: Proses penyedotan air menggunakan pompa di Sipon Watudakon, Desa Pagerluyung, Kecamatan Gedeg, saat banjir melanda sejumlah desa di Kecamatan Sooko, 13 Desember 2024.
 

Pembersihan Terakhir pada 2019 Silam

 KABUPATEN – Upaya pengendalian banjir langganan imbas luapan Sungai Afvoer Watudakon di Kecamatan Sooko terus digodok. Salah satunya usulan agar Sipon Watudakon yang berada di bawah aliran Sungai Brantas diperiksa secara rutin. Pembersihan terowongan air itu terakhir dilakukan pada 2019 alias sudah lima tahun silam.

 Banjir yang melanda sejumlah desa di Kecamatan Sooko pada Desember tahun lalu menjadi atensi Pemkab Mojokerto. Setelah evaluasi bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas selaku pengelola aliran sungai, sejumlah usulan disampaikan. Tak terkecuali agar kondisi Sipon Watudakon lebih diperhatikan.

 ”Kami sampaikan bahwa harus perlu ada monitoring kinerja sipon itu sejauh mana, kami usulkan supaya setiap setahun atau dua tahun sekali ada monitoring,” kata Kabid Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Mojokerto Rois Arif Budiman, kemarin. 

Monitoring yang dimaksud ialah pemeriksaan aliran Sungai Watudakon di bawah Sungai Brantas. Bangunan sipon semacam terowongan yang mengalirkan air dari sisi selatan ke sisi utara Brantas itu tak pernah dicek sejak lima tahun terakhir. 

Rois menyebut pemeriksaan ke dalam perlu dilakukan untuk mengatahui kondisi aliran, seperti adanya sumbatan atau sedimentasi. ”Terakhir 2019 ada monitor masuk ke dalam melibatkan Marinir. Jadi, diketahui ada sumbatan atau apa untuk menjamin kelancaran aliran,” tandasnya. Karena lima tahun tak diperiksa, kondisi aliran sipon saat ini tak diketahui. Pihaknya pun mendorong supaya pembersihan di dalam dapat dilakukan untuk memastikan aliran sungai lancar. 

Selain itu, penanganan banjir secara permanen rencananya juga dilakukan BBWS dengan membangun kolam retensi di sekitar inlet atau pintu masuk sipon. Keberadaan kolam retensi dianggap sebagai solusi untuk mengelola air secara temporer. Aliran sungai sementara waktu ditampung dalam kolam tersebut agar tak meluap dan menimbulkan banjir. Kolam tersebut paling cepat terealisasi tahun depan. 

Kolam retensi dinilai penting lantaran berdasarkan penilaian BBWS, Sipon Watudakon sudah tak berfungsi secara maksimal. Dalam kasus banjir terakhir, kemampuan terowongan air ini masih setengah dibanding besarnya debit sungai. (adi/ris)

 

 

 

Editor : Hendra Junaedi
#Pengendali Banjir dan Irigasi #dam sipon mojokerto #BBWS Brantas Jatim #afvoer