Tanam Lima Ribu Pohon, Fokus Restorasi Ekologi dan Ekonomi
Dusun Mligi, Desa Claket, Kabupaten Mojokerto memiliki kearifan yang unik. Ada historis di mana dusun ini memiliki wisata Surodadu. Yakni, air terjun yang erat dengan cerita perlawanan rakyat Indonesia melawan kolonial Belanda.
DODIK RUDIYANTO, Pacet
’’Lha dari historis dari rakyat seperti itu, dibuatlah dengan kami bekerja sama dengan dandim, muspida dan muspika setempat. Kami ingin mengangkat kearifan lokal itu menjadi sebuah cerita monumen atau cerita rakyat yang mempunyai historis yang panjang antara masyarakat dengan tentara dan dengan arti penjajahan itu sendiri,’’ kata Sahlan Junaedy, Field Officer Jatim Yayasan Bambu Lingkungan Lestari ditemui di Dusun Mligi.
Sahlan menjelaskan, Yayasan Bambu Lestari Indonesia dengan dandim, Aliansi Air, Wehasta, Multi Bintang, dan pemerintahan daerah sepakat untuk budi daya bambu dengan metode landscaping. Pembangunan itu didasarkan potensi-potensi lokal yakni bambu yang melimpah. Di Dusun Bambu, pihaknya berinisiasi menamakan Dusun Bambu Mligi Plateu.
Di Dusun Bambu sendiri, sudah ada sentra edukasi dan pembibitan bambu. Itu satu-satunya di Jawa Timur. Yang kedua, juga ada potensi atraksi alam atau landscaping bambu di wilayah air terjun. ’’Harapannya ke depan ini bisa membangun sebuah wisata yang berbasis ecotourism di mana pengelolaan berbasis masyarakat seperti itu,’’ tandasnya.
Pihaknya akan fokus mengenai fungsi dari ekosistem itu sendiri. Karena Desa Claket berada di pinggir hutan yang menjadi desa penyangga. Terkait pelestarian dan penjagaan teritori, kata dia, menjadi tanggung jawab bersama. Bisa berbentuk ekowisata atau dalam bentuk sarana-sarana edukasi yang bisa dibuat lebih produktif atau membangun. ’’Jadi penanaman itu sudah dilakukan mulai 2020 hingga sampai saat ini. Sekarang, kita aksi yakni aksi gerakan. Dan harapan ini bisa dilanjutkan secara masif oleh masyarakat maupun para semua pihak terkait,’’ terangnya.
Pihaknya menanam bambu petung untuk fungsi ekologisnya. Bambu Sapu Garis itu ada subspesies itu ada bambu kuning, bambu kuning bali dan bambu Jakarta dan bambu kuning kecil kalau itu untuk fungsi estetik. ’’Jadi harapan kami ketika menanam nanti akan menjadi sebuah ruang terbuka hijau yang mana bambu yang esteik ini menjadi sebuah jalur yang bagus,’’ tambah Sahlan.
Untuk penanaman, pihaknya melakukan hampir tiap hari selama musim hujan. Setiap tahun, pihaknya juga melakukan restorasi. ’’Jadi tujuan kami. Kami bermitra dengan Multi Bintang Indonesia, Kita bermitra dengan Pemerintah Daerah itu sepakat untuk merestorasi ekologi dimana ini berada digugusan Arjuna Welirang. Wilayah Trawas, Pacet, Gondang dan Jatirejo. Karena gugusan Arjuna Wilarang ini merupakan penyuplai Air Mojokerto, Surabaya, Gresik, Lamongan dan beberapa area yang ada di hilir yang di daerah Jombang,’’ bebernya.
Pihaknya juga fokus untuk restorasi ekologi dan ekonomi. Kenapa seperti itu? karena saat ini bambu dianggap sampah, bambu dianggap tidak berguna. Pihaknya ingin membuktikan bambu ini bisa dimanfaatkan untuk kerajinan. Ada hubungannya dengan kearifan lokal, budaya, sosial dan kesenian. Di mana kesenian itu sendiri saat ini yang terjadi adalah budaya adalah seni. ’’Ini adalah konteks yang paling penting. Artinya, kita melawan yang namanya budaya adalah seni. Yang benar yakni seni bagian dari budaya,’’ tegas Sahlan.
Di dusun setempat juga terdapat tradisi Unduh Banyu. Sedianya, Jumat Legi mendatang, warga akan melakukan ritual warga untuk keselamatan dusun. Pihaknya pun mengawali dengan penanaman bersama. ’’Ketika kita berbicara tentang ritual unduh banyu ini adalah rangkaian dimana ada gotong royong. Ada edukasinya dan ada penanamannya dan ada aksi. Semuanya ini ada hubungannya dengan kearifan lokal atau hubungannya dengan budaya dan sosial,’’ beber Sahlan.
Tradisi Unduh Banyu yang merupakan kearifan lokal uri-uri budaya. Itu sebagai pengingat leluhur itu sudah melakukan sebuah tradisi atau perilaku baik. ’’Nah. Seharusnya, konteks itu menjadi terintegrasi jadi bukan parsial kegiatan penanaman dengan para pihak dandim, pemerintah daerah atau muspida dan muspika saja tapi ini adalah sebuah konteks esensi dari gotong royong itu sendiri,’’ tuturnya.
Pada waktu yang sama, Komandan Kodim 0815 Mojokerto, Letkol Inf Ruly Noriza, S.Ip, M.Ip mengetahui pohon bambu ini termasuk jenis pohon monokotil yang mempunyai kecepatan tumbuh yang tinggi dan berkembang biak dengan cara vegetatif tanpa melalui proses perkawinan. Lalu, berkembang menggunakan tunas yang akar yang keluar pada pangkal batang tumbuhan. Pohon tersebut lebih cepat tumbuh di tempat-tempat yang dingin juga lembab yang cocok tumbuh di Pacet ini.
Pihaknya menjelaskan, bambu mempunyai banyak manfaat. Di antaranya, untuk mencegah erosi tanah, penyerapan karbondioksida, meningkatkan volume air dan bisa dibuat konstruksi bangunan jalan tol hingga kerajinan tangan. ’’Saya berharap kepada para tamu agar selalu mencintai alam dan kami juga bergandengan tangan dengan komunitas bambu untuk melestarikan alam,’’ pungkasnya. (fen)
Editor : Hendra Junaedi