JETIS - Mengambil konsep swalayan, pembeli buah melon ini dibebaskan memetik sendiri di ladang. Itu sekaligus jadi wahana wisata alternatif di Dusun Tambak Karang, Desa Banjarsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.
Suparno, petani melon menuturkan, mula-mula dirinya petani konvensional seperti kebanyakan di kawasan itu yang menanam jagung dan padi. ’’Lama kelamaan harga jagung kian anjlok di pasaran. Petani tak dapat untung. Begitu juga dengan padi, harga gabah mengalami naik turun tidak menentu. Lalu saya mencoba menanam melon ini dan hasilnya tidak terduga, luar biasa,’’ tuturnya.
Tanaman bernama latin Cucumis melo ini tanaman buah semusim. Biasanya, buah ini ditanam saat musim kemarau untuk menyesuaikan suhu. Ditanam di lahan seluas 1,5 hektar sejak akhir juli, Suparno menuai panen sejak dua minggu lalu.
’’Ini kita masa petik keempat. Panen pertama hasilnya ditebas tengkulak. Tentunya tengkulak mempunyai kriteria, secara bentuk dan kematangan harus sempurnya untuk grade A, lalu grade B dan seterusnya. Lalu masa petik ini baru saya buka untuk umum, dengan harga Rp 7000 per kilogram,’’ tutur lelaki paruh baya tersebut.
Tak hanya warga sekitar, pengunjung petik melon datang dari berbagai wilayah, seperti Gedeg, Sooko, Dawarblandong dan Kabupaten Gresik. Bahkan ada serombongan ibu-ibu yang datang dengan menyewa kereta kelinci.
’’Ini hal baru di kawasan Jetis, biasanya kita beli hanya di pasar. Tetapi kali ini kita bisa langsung petik buah melon langsung di sawah. Selain bebas memilih sesuai selera, kita juga bisa sekaligus berwisata menikmati alam desa,’’ tutur Anita, pengunjung dari Sooko. (fan/fen)
Editor : Hendra Junaedi