KOTA - Sejumlah kejadian yang terkait dengan kondisi kejiwaan personel kepolisian menjadi perhatian serius Mabes Polri. Tim Biro Psikologi Staf Sumber Daya Manusia (SSDM) pun bersafari ke daerah untuk memberi pemahaman soal pentingnya kesehatan mental.
Rabu (14/8), giliran Polres Mojokerto Kota yang mendapat paparan tentang psikologi itu.
Arahan tersebut disampaikan tim psikologi mabes dalam kesempatan apel pagi. Kegiatan ini diikuti ratusan personel meliputi pejabat utama, kapolsek, serta anggota lainnya. ’’Pengarahan saja ke anggota perihal kejadian-kejadian kemarin,’’ kata salah satu personel.
Kapolres Mojokerto Kota AKBP Daniel Marunduri belum bisa berkomentar terkait isi pengarahan tersebut.
Sejak pagi, dia mengikuti rangkaian kegiatan persiapan Pilkada 2024 yang digelar Polda Jatim di Kabupaten Sampang. ’’Saya di Sampang,’’ ujarnya saat dihubungi kemarin sore.
Kasihumas Polres Mojokerto Kota Ipda Agung Suprihandono mengatakan, dalam apel ini, tim psikologi memberi pemahaman terkait pentingnya kesehatan mental dan kejiwaan anggota.
Hal itu termasuk pula bagaimana cara yang bisa dilakukan untuk menangani permasalahan sehingga tidak mengganggu secara psikologis. ’’Intinya betapa pentingnya menjaga kesehatan mental polisi, juga mengendalikan emosi dan solusinya,’’ jelas Agung.
Paparan ini diharapkan memberi pemahaman lebih kepada para personel. Dalam apel itu, tim psikologi juga mengajak para peserta untuk mengikuti sejumlah gerakan relaksasi. Terapi ini menjadi bagian dari langkah dini untuk melepas stres.
Belakangan dua peristiwa terkait guncangan mental dialami anggota Polres Mojokerto Kota. Yakni kasus Briptu Fadhilatul Nikmah, polwan yang membakar suaminya yang juga anggota Polri pada 8 Juni lalu.
Kasus tersebut kini tengah berproses di Polda dan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim. Dimungkinkan proses peradilan Briptu Dila, panggilanya, bergulir di Pengadilan Negeri Mojokerto. Mengingat kasus tersebut terjadi di wilayah Kota Mojokerto.
Selanjutnya, kasus dugaan bunuh diri yang dilakukan Kapolsek Kompol Maryoko, Minggu (1/8) lalu. Korban ditemukan menggantung di salah satu kamar belakang rumahnya.
Berdasarkan pemeriksaan luar tim medis tidak ditemukan tanda-tanda indikasi kekerasan selain jeratan di leher.
Motif tindakan itu diduga dilatarbelakangi kondisi depresi lantaran sakit yang dideritanya tak kunjung sembuh. Padahal, korban sudah berupaya berobat di beberapa rumah sakit. Atensi terkait kesehatan psikologi diharapkan bisa mengantisipasi kejadian-kejadian serupa terulang. (adi/fen)
Editor : Hendra Junaedi