KOTA - Kondisi ruas Jalan Ir Soekarno, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto kembali lengang, Rabu (31/7).
Tidak ada lagi kegiatan nyore setelah semua pedagang kaki lima (PKL) angkat kaki dari Jalan Balongcangring-Rejoto itu.
Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Mojokerto tampak memasang barrier seusai berakhirnya surat peringatan terkait penghentian aktivitas perdagangan di Jalan Ir Soekarno.
Langkah tegas itu dilakukan setelah perwakilan PKL duduk bersama korps penegak perda bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, Rabu (31/7) siang di kantor satpol PP, Jalan Bhayangkara.
”Pertemuan ini karena PKL memerlukan audiensi terkait bagaimana mereka kok tidak boleh berjualan,” ungkap Kasatpol PP Kota Mojokerto Modjari.
Dia menyatakan, terdapat beberapa alasan diterbitkannya surat peringatan nomor 300.1/1735/417.508.2/2024 yang dilayangkan ke PKL di Jalan Ir Soekarno.
Dalam surat tersebut, para pedagang diberi batas akhir hingga kemarin (31/7) untuk mensterilkan ruas jalan menuju Taman Bahari Mojopahit (TBM).
Mengingat, aktivitas perdagangan di ruas jalan alternatif Kelurahan Mentikan-Pulorejo ini dinilai melanggar UU/22 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, serta Perda Kota Mojokerto 3/2021, tentang Penyelenggaraan Toleransi, Ketenteraman Umum, serta Perlindungan Masyarakat.
”Secara aturan, bahwa jalan tersebut adalah akses yang bisa digunakan keluar-masuk atau mobilisasi kendaraan,” tandasnya.
Di samping itu, sebut Modjari, terdapat faktor lainnya yang juga menjadi alasan untuk dilakukan penertiban. Di antaranya, karena proyek jalan senilai Rp 5,2 miliar itu kini masih dalam masa perawatan sampai Desember nanti.
Serta di kawasan TBM, tengah dilakukan pekerjaan tahap kedua. Dari hasil audiensi, Modjari menyebut para pedagang akhirnya bersepakat untuk tidak lagi membuka lapak di Jalan Ir Soekarno.
”Akhirnya mereka mau diarahkan. Sehingga kami ambil kesimpulan hari ini solusinya adalah dengan memindahkan mereka di kawasan Pasar Ketidur,” tegasnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto sore kemarin, seluruh PKL sudah tidak ada lagi yang membuka lapak di ruas Jalan Ir Soekarno.
Kondisi itu membuat jalan yang berada di sisi Sungai Ngotok ini tampak lengang dari aktivitas penjual dan pengunjung. Namun, hanya sebagian yang bergeser ke kawasan Pasar Rakyat Ketidur, Kelurahan Surodinawan.
Salah satunya yang dilakukan Afif, pedagang asal Desa Brangkal, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. ”Karena di Rejoto sudah tidak boleh, jadi nyoba di sini (Pasar Rakyat Ketidur, Red),” sebutnya.
Meski tingkat pengunjung relatif lebih sepi dibanding di Jalan Ir Soekarno, dirinya mengaku ingin menambah penghasilan dengan membuka usaha saat sore hari.
”Kalau ramai atau tidaknya masih belum tahu, karena baru pertama ini,” imbuh pedagang yang juga berdagang di Jalan Benteng Pancasila (Benpas) ini.
Namun, dari total 90 lebih pedagang di Jalan Ir Soekarno, tidak semua memilih untuk pindah ke Pasar Rakyat Ketidur. Sebagian lainnya memutuskan kembali ke tempat usaha lama mereka.
”Belum punya rencana mau jualan ke mana, mungkin balik lagi jualan ke rumah,” ungkap Yuni, pedagang pentol bakar asal Lingkungan Trenggilis, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon ini. (ram/ris)
Editor : Hendra Junaedi