KABUPATEN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menetapkan status siaga terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kabupaten Mojokerto.
Empat kawasan hutan dan pegunungan terus dipantau dari keberadaan titik api yang dapat muncul tiba-tiba hingga menghanguskan puluhan hektare lahan.
Empat kawasan tersebut mulai dari hutan Gunung Penanggungan, hutan Gunung Arjuno-Welirang, gugusan Pegunungan Anjasmoro, dan hutan kayu produktif di Dawarblandong.
Empat kawasan tersebut dinilai rawan terbakar lantaran kondisi yang kering, terhitung sejak musim kemarau melanda tiga bulan silam.
Vegetasi yang semula tumbuh hijau, kini telah menguning sehingga rawan tersulut api. Belum lagi hembusan angin kencang kian memperluas dampak kebakaran.
’’Sesuai pengalaman tahun lalu, empat lokasi itu menjadi langganan kebakaran hutan dan lahan,’’ ungkap Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto Yo’i Afrida Soesetyo Djati.
Meski telah disiagakan petugas dan relawan, Yo’i menegaskan kepada seluruh masyarakat agar terus menjaga lingkungannya dari berbagai potensi kebakaran.
Sebab, penyebab terbesar karhutla adalah kelalaian manusia. Seperti membuang puntung rokok sembarangan, membakar sampah di lahan kering tanpa pengawasan, hingga sengaja dibakar untuk membuka lahan pertanian baru.
Hal ini yang kerap menyulitkan petugas dalam upaya pemadaman. Bahkan, petugas sempat terkecoh adanya laporan kebakaran hutan jati di Desa Cendoro, Kecamatan Dawarblandong kemarin.
Saat dicek ke lokasi, ternyata api sudah padam dengan menyisakan abu hitam di beberapa titik. ’’Sempat ada laporan titik hot spot kuning di Cendoro, ternyata api sudah padam,’’ tandasnya.
Untuk mengantisipasi, Yo’i telah menyiagakan enam unit PMK di dua pos. BPBD juga rutin melakukan sosialisasi antisipasi kebakaran, baik di sekolah perkantoran maupun industri.
Termasuk menyebarluaskan informasi kontak layanan respons cepat damkar ke seluruh lapisan masyarakat. (far/fen)
Editor : Hendra Junaedi