Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Harga Gabah di Kabupaten Mojokerto Terkerek HPP

Khudori Aliandu • Selasa, 16 April 2024 | 22:00 WIB

PANEN: Petani di Desa Singowongi, Kecamatan Kutorejo memanen padi pada akhir Maret lalu.
PANEN: Petani di Desa Singowongi, Kecamatan Kutorejo memanen padi pada akhir Maret lalu.
KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Para petani di Kabupaten Mojokerto belakangan dipastikan semringah.

Itu setelah harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah naik. Baik harga gabah kering panen (GKP) ataupun harga gabah kering giling (GKG).

Kepala Pimpinan Cabang Bulog Surabaya Selatan Rusli mengatakan, berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional RI nomor 167/2024, pemerintah memutuskan menaikkan harga beli gabah dan beras.

Penyesuaian HPP tersebut tak lain untuk menggenjot stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang berasal dari produksi dalam negeri, sehingga tidak hanya bersumber dari importer saja.

’’Penyesuaian HPP gabah dan beras ini memang untuk optimalisasi serapan pemerintah dari hasil panen petani kita sebagai stok cadangan beras pemerintah,’’ ungkapnya.

Sesuai regulasi anyar, kenaikan HPP berlaku untuk GKP ataupun GKG. Rinciannya, Rp 6 ribu per kilogram (kg) untuk GKP di tingkat petani dari sebelumnya Rp 5 ribu.

Sedangkan GKG di gudang Perum Bulog yang sebelumnya Rp 6.300 per kg naik menjadi Rp 7.400 per kg.

’’Jadi ada kenaikan Rp 1.000 untuk di tingkat petani, dan 1.100 untuk pembelian bulog dari penggilingan,’’ tegasnya.

Sebagai tindak lanjut, Cabang Bulog Surabaya Selatan juga sudah mulai berancang-ancang melakukan penyerapan gabah dengan mengacu pada HPP yang baru. Diawali dengan mengumpulkan mitra penggilingan.

Tak urung kondisi ini tentu membuat para petani yang tengah panen raya semirngah.

Praktisnya, melalui optimalisasi penyerapan ini petani tidak sampai merugi di tengah tingginya biaya produksi yang dikeluarkan.

’’Dengan harga Rp 6.000 per kilo untuk gabah kering penan, petani tentu sudah diuntungkan,’’ paparnya.

Kendati begitu pada penyerapan ini pihaknya fokus pada GKG dengan harga Rp 7.400 per kg, lantaran belum mempunyai mesin pengeringan.

Dengan catatan kadar airnya 14 persen. Pihaknya tak membatasi seberapa banyak serapan gabah dari petani.

’’Yang pasti sebanyak-banyaknya kita serap. Kalau ada hari ini juga langsung kita beli sesuai HPP yang terbaru, karena fleksibilitas HPP ini kan juga berlaku sampai 30 Juni 2024,’’ urainya. (ori/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#hpp #gabah #mojokerto