RADARMOJOKERTO – Pemudik dalam satu keluarga yang menempuh Jakarta-Banyuwangi, Jawa Timur ini terbilang nekat.
Bahkan, pemudik terdiri atas lima orang asal Jalan Percetakan Negara 2, Johar Baru, Jakarta Pusat (Jakpus) tersebut, banyak menyita perhatian orang dan jagat dunia maya.
Selain menumpangi bajai dengan ruang penumpang yang sempit, kurang nyaman, dan dalam perjalan jauh, mereka juga sebatas membawa uang saku sebesar Rp 1,5 juta.
Sedianya uang saku tersebut hanya dipergunakan untuk membeli bahan bakar minyak (BBM), biaya makan lima orang, dan kebutuhan lainnya.
Padahal, jarak antara Jakarta Pusat dengan Banyuwangi sangat jauh.
Dengan jarak tempuh perjalanan darat sepanjang kurang lebih 1.065 kilometer.
Lima orang dalam satu keluarga tersebut masing-masing Royadi, 40; Dayu Dimas, 43, (istri); Cindia Sera, 20, (anak); Maulana, 13, (anak), dan seorang balita berusia 3 tahun, Achmad David Pratama, 3.
”Di Mojokerto sudah dua hari ini, kemarin kita bermalam di teras toko warga,” kata Cindia Sera, Jumat (12/4).
Balita tersebut diketahui putra dari Cindia Sera atau cucu pasangan Royadi dengan Dayu Dimas.
Royadi menceritakan, perjalanan antara Jakarta ke Banyuwangi ditempuh dengan mengendarai bajai selama dua hari.
Mereka berangkat dari ibukota menuju Banyuwangi melintasi jalur pantau utara (pantura), Surabaya hingga ke Banyuwangi.
”Mudik dengan mengendarai bajai ini yang kedua kali. Tahun lalu, dan sekarang kami mudik lagi dengan kendaraan yang sama,” paparnya.
Kenekatan mereka untuk mudik menggunakan bajai karena kondisi ekonomi yang serba terbatas.
Jika perjalanan ke Banyuwangi ditempuh menggunakan angkutan umum, akan menelan biaya besar.
Baca Juga: Antisipasi Kejahatan Jalanan Selama Lebaran, Polres Kota Mojokerto Galakkan Patroli Langsung
Belum lagi untuk kebutuhan makan dan uang saku selama perjalanan pulang pergi (PP) Jakarta-Banyuwangi.
”Saya bawa uang saku Rp 1,5 juta. Sekarang ini tinggal Rp 500 ribu. Sisanya sudah digunakan untuk beli BBM dan makan,” tambahnya.
”Ini pun rencananya buat beli onderdilyang rusak dan biaya perbaikan,” imbuhnya pasrah.
Dia menuturkan, selama perjalanan mereka memang tidak langsung menuju ujung timur pulau Jawa itu.
Tepatnya menuju rumah kerabat istrinya, di Dusun Bubuk Krajan, Desa Bubuk, Kecamatan Regojampi, Kabupaten Banyuwangi.
Melainkan ditempuh dengan beberapa kali berhenti untuk beristirahat dan mendinginkan mesin kendaraan.
”Ya 1-2 jam berhenti istirahat. Kadang di SPBU, masjid, musala atau di tepi jalan. Kalau dipaksakan ya mesinnya tidak kuat,” tambah dia.
Dua hari di Banyuwangi, Royadi dan keluarga akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
Namun dalam perjalanan balik ke kampung halaman, mereka tidak langsung melalui jalur pantura.
Tetapi, justru melintasi jalur selatan untuk lebih dulu mampir di rumah temannya, di kawasan Nganjuk.
Sayangnya, perjalanan yang sudah ditempuh selama kurang lebih 9 jam dari Banyuwangi itu tidak sesuai harapan.
Setibanya di Nganjuk, Rohadi justru tidak bertemu dengan temannya.
Sehingga dirinya memutuskan untuk kembali ke Jakarta melewati pantura melalui jalur Jombang – Mojokerto dan Surabaya.
”Begitu sampai di Trowulan, Mojokerto, Kamis (11/4) sore, sekitar pukul 14.30 mesin bajai kami rusak dan tidak bisa jalan,” ungkapnya.
Editor : Moch. Chariris