Penjabat (Pj) Wali Kota Mojokerto Moh. Ali Kuncoro menyatakan, Pemkot Mojokerto bersama stakeholder terkait kini fokus untuk penanganan dampak pascabencana.
Karena kemarin, sebagian wilayah yang terdampak banjir di Kecamatan Prajurit Kulon pada Sabtu (9/3) malam mulai surut.
’’Kondisi di lapangan (wilayah terdampak, Red) sudah mulai surut,’’ ungkapnya saat meninjau dapur umum di Kantor Kecamatan Prajurit Kulon, Minggu (10/3).
Ali Kuncoro memaparkan, dari dua kelurahan yang terdampak banjir, hanya di Kelurahan Blooto yang hingga sore kemarin masih menyisakan genangan air.
Tepatnya di kawasan Perumdam dan di Lingkungan Trenggilis. ’’Masih ada genangan sekitar 15 sampai 20 sentimeter,’’ sebutnya.
Untuk mempercepat daya surut air, dinas PUPR perakim telah diinstruksikan untuk menerjunkan pompa air portable.
Termasuk dinas lingkungan hidup (DLH) yang juga dikerahkan untuk membersihkan sampah yang menyumbat aliran sungai pada pintu air.
Sedangkan di Kelurahan Surodinawan yang menjadi wilayah terdampak banjir terparah dipastikan sudah tidak ada genangan.
Hanya saja, masih terdapat sisa lumpur yang sebelumnya terbawa arus akibat jebolnya tanggul Sungai Brangkal di Desa Wringinrejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.
’’(Lumpur) jalan-jalan protokol juga sudah kita bersihkan, sehingga aktivitas sudah berangsur membaik seperti semula,’’ tandasnya.
Ali Kuncoro menegaskan, dapur umum juga tetap dioperasikan untuk menyuplai kebutuhan makanan bagi 3.585 warga terdampak banjir.
Di samping itu, posko kesehatan dan lokasi pengungsian juga disiagakan. Masing-masing di rumah dinas Camat Prajurit Kulon dan di Perumdam.
’’Yang terpenting penanganan warga yang terdampak. Termasuk ada orang tua, ibu hamil, dan balita yang sudah kita tempatkan di rumah dinas Camat Prajurit Kulon,’’ tegas dia.
Meski sudah tertangani, Ali Kuncoro meminta masyarakat untuk tetap waspada terhadap bencana alam.
Selain intensitas hujan yang masih tinggi, wilayah Kota Mojokerto juga dikelilingi sungai yang sewaktu-waktu juga berpotensi terjadi luapan.
’’Untuk warga kota, saya berpesan supaya tetap waspada. Tantangan kita kan tidak hanya curah hujan yang dari atas, juga bagaimana aliran sungai yang mengelilingi Kota Mojokerto itu tidak meluap,’’ tandasnya.
Terlebih, jelas dia, kondisi topografi Kota Mojokerto merupakan daerah cekungan. Sehingga rawan terjadi bencana alam, terutama banjir.
’’Karena posisi kota seperti mangkuk. Kalau dari atas saja kita bisa memainkan pompa air, tapi kalau sungainya semua meluap, maka itu yang kita harus siap,’’ pungkasnya.
Berdasarkan data dari Dinkes PPKB Kota Mojokerto, jumlah warga yang dievakuasi hingga Minggu (10/3) sore terdapat 13 jiwa. Satu di antaranya harus mendapatkan perawatan di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo karena kondisinya sakit.
Sedangkan warga terdampak lainnya yang sebelumnya mengungsi di kantor PCNU kini dipusatkan di rumdin Camat Prajurit Kulon, Jalan Raya Prajurit Kulon, Nomor 70. Masing-masing terdiri 2 ibu hamil, 5 balita, dan 5 dewasa dan lansia yang berasal dari warga Kota dan Kabupaten Mojokerto.
’’Khusus bumil kita cek terus kondisinya. Karena ada satu orang yang usia kandungannya sudah 9 bulan, sehingga harus dilakukan pemantauan ketat agar sewaktu-waktu kalau kontraksi bisa langsung tertangani,’’ sambung Kepala Dinkes PPKB Kota Mojokerto dr Farida Mariana. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah